Israel, Iran, dan Pergeseran Ancaman di Timur Tengah
Dinamika geopolitik terbaru meningkatkan kekhawatiran regional. Pasca Oktober 2023, banyak negara Arab mulai memandang Israel, bukan Iran, sebagai ancaman utama stabilitas kawasan. Persepsi ini menguat setelah Perang 12 Hari Juni 2025, di mana serangan Israel menggagalkan negosiasi nuklir AS-Iran.
"Kebijakan luar negeri Israel yang agresif kini dilihat sebagai ancaman langsung yang tak terkendali," kata Trita Parsi dari Institut Quincy. Negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mulai membentuk koalisi untuk menyeimbangkan kekuatan. Dalam konteks ini, Iran berfungsi sebagai penyangga terhadap Israel. Kekacauan atau rezim boneka pro-Israel di Teheran akan menjadi pukulan berat bagi upaya penyeimbangan ini.
Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Oman, Qatar, dan Arab Saudi, bersama Turki, aktif melakukan diplomasi untuk mencegah serangan. Mereka menjadi "pengusaha de-eskalasi" dengan memanfaatkan pengaruh praktis, kredibilitas sebagai perantara, dan kepentingan bersama untuk menghindari perang yang akan mengguncang pasar energi dan kepercayaan domestik.
Eskalasi Militer vs Pengekangan: Perhitungan Risiko Regional
Secara ringkas, prospek perang AS-Iran menyoroti kekhawatiran regional yang kompleks. Mayoritas negara Asia Barat, terlepas dari persaingan dengan Teheran, memandang eskalasi militer sebagai pertaruhan berisiko tinggi yang dapat mendestabilisasi kawasan selama bertahun-tahun.
Dari krisis pengungsi, gangguan ekonomi, hingga kebangkitan aktor radikal, konsekuensi sekunder dianggap jauh lebih berbahaya daripada menghadapi Iran yang utuh di bawah Republik Islam. Peran diplomasi aktif oleh negara-negara Arab menunjukkan bahwa aktor regional bukan penonton pasif, melainkan pembentuk hasil strategis.
Pelajaran dari kegagalan kampanye militer AS di Afghanistan, Irak, dan Libya telah memperdalam kehati-hatian ini. Pada akhirnya, perhitungan antara eskalasi dan pengekangan mencerminkan pengakuan pragmatis bahwa kekacauan di Iran dapat dengan mudah menyebar, merusak stabilitas regional dan kepentingan global. Diplomasi dan konsultasi regional muncul sebagai instrumen penting untuk menjaga keseimbangan di lanskap geopolitik yang rapuh.
Artikel Terkait
Kapal Induk Luar Angkasa China Luanniao: Fakta, Ambisi, dan Perang Psikologis
Latihan Militer Kuba: Persiapan Hadapi Ancaman AS & Belajar dari Krisis Venezuela
Memar di Tangan Donald Trump di Davos: Penyebab, Penjelasan Medis, dan Dampak Aspirin
10 Negara Teraman Saat Perang Dunia 3: Daftar Lengkap & Tips Bertahan Hidup