Trump Perintahkan Blokade Pelabuhan Iran di Selat Hormuz Setelah Perundingan Damai Buntu

- Rabu, 29 April 2026 | 09:50 WIB
Trump Perintahkan Blokade Pelabuhan Iran di Selat Hormuz Setelah Perundingan Damai Buntu

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menginstruksikan para penasihatnya untuk menyusun rencana blokade berkepanjangan terhadap Iran. Langkah ini akan menutup pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz, melarang kapal masuk maupun keluar. Keputusan tersebut diambil setelah perundingan damai putaran pertama di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, sementara gencatan senjata yang sempat berlaku kini berada dalam ketidakpastian.

Blokade Dinilai Lebih Aman daripada Opsi Militer

Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber pejabat AS, Trump memandang opsi lain—seperti melanjutkan operasi militer atau bahkan menarik diri sepenuhnya dari konflik—jauh lebih berisiko. Blokade, di matanya, adalah jalan tengah yang paling bisa dikendalikan. Langkah ini bukan tanpa konsekuensi, namun tampaknya menjadi pilihan yang paling mungkin ditempuh dalam waktu dekat.

Wakil Sekretaris Pers, Anna Kelly, membenarkan laporan tersebut. Ia menyatakan bahwa blokade itu memberi AS pengaruh maksimal atas otoritas Iran. "Blokade tersebut memberi AS pengaruh maksimal atas otoritas Iran," ujarnya. Ia pun menegaskan bahwa Trump hanya akan menerima kesepakatan yang menjamin keamanan nasional AS.

Perundingan Buntu, Iran Bersikukuh

Perundingan damai AS-Iran putaran pertama di Pakistan pada 11-12 April lalu berakhir tanpa hasil. Dua isu utama yang menjadi ganjalan adalah program nuklir Iran dan blokade Selat Hormuz. Pembicaraan lanjutan pun tak jelas kapan akan digelar. Sikap Iran tegas: mereka menolak berunding selama blokade masih berlangsung.

Di lapangan, situasi semakin rumit. Sebagai informasi, konflik memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Serangan itu menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan lebih dari 3.300 warga sipil. Gencatan senjata kemudian mulai berlaku pada 7 April selama dua minggu, sebelum akhirnya diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang jelas. Perpanjangan itu dilakukan dengan syarat Iran menyerahkan proposal damai terpadu. Hingga kini, perundingan masih belum menunjukkan titik terang.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar