- Memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Malaysia.
- Membuka jalur strategis baru untuk pertumbuhan ekonomi.
- Mempercepat perekonomian masyarakat pesisir Riau, khususnya Bengkalis dan Dumai.
Kritik dan Tantangan Proyek Jembatan
Di balik rencana besarnya, proyek jembatan antar negara ini juga menuai kritik dan keraguan dari berbagai pihak di Malaysia.
Yadzil Yaakub, Ketua Oposisi Melaka, secara terbuka mempertanyakan kelayakan dan tujuan pembangunannya. Beberapa poin kritik yang diajukan antara lain:
- Masalah Pendanaan: Pemerintah Melaka dinilai masih bergantung pada bantuan federal untuk belanja rutin, sehingga kemampuan mendanai proyek raksasa ini diragukan.
- Manfaat Ekonomi yang Dipertanyakan: Wilayah tujuan di Indonesia (Dumai) dinilai bukan pusat ekonomi utama, sehingga imbal hasil ekonomi bagi Melaka dikhawatirkan minim.
- Risiko Kegagalan: Dikhawatirkan jika proyek swasta gagal, pemerintah akhirnya akan menanggung beban penyelamatan dengan menggunakan dana publik.
"Dalam semua skenario, rakyatlah yang menjadi korban," tegas Yadzil.
Kesimpulan
Rencana pembangunan Jembatan Dumai-Melaka sepanjang 47 km telah memasuki tahap studi kelayakan dengan anggaran Rp 2,04 miliar. Proyek ini digadang-gadang sebagai pemacu ekonomi dan penguat konektivitas ASEAN, namun dihadapkan pada tantangan pendanaan dan kritik mengenai kelayakan ekonominya. Perkembangan proyek strategis ini akan terus menarik untuk diikuti, mengingat dampak besar yang mungkin ditimbulkannya bagi kedua negara.
Artikel Terkait
Materai Hijau Ijazah Jokowi: Fakta Klarifikasi Alumni UGM vs Tuduhan Profesor Ciek
Mulyono Purwo Wijoyo Ditangkap KPK: Kronologi Lengkap Korupsi Restitusi PPN Miliaran Rupiah
TNI Klarifikasi Video Viral: Intel Awasi Anies di Warung Soto Karanganyar?
Liu Xiaodong, Otak Pencurian Emas 774 Kg di Ketapang, Resmi Dilimpahkan ke Kejaksaan