Sopir Tewas Gantung Diri Diduga Akibat Cekcok Soal Uang Kerja untuk Judi Online

- Selasa, 14 April 2026 | 03:00 WIB
Sopir Tewas Gantung Diri Diduga Akibat Cekcok Soal Uang Kerja untuk Judi Online

PARADAPOS.COM - Seorang sopir berusia 32 tahun ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di rumah kontrakannya di Pangkalan Kerinci Barat, Kabupaten Pelalawan, pada Senin (13/4/2026) pagi. Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh perselisihan rumah tangga yang berlarut-larut, menyusul dugaan penggunaan uang perjalanan kerja untuk judi online.

Kronologi Penemuan Jenazah

Korban yang berinisial RA ditemukan dalam kondisi tak bernyawa sekitar pukul 10.30 WIB. Ia tergantung di kusen pintu yang menuju ke dapur rumahnya. Penemuan ini bermula ketika seorang rekan sesama sopir, HA (21), yang tinggal satu rumah dengannya, bangun tidur dan hendak ke dapur.

Dia langsung terkejut melihat kondisi RA. Menyaksikan pemandangan yang tak terduga itu, HA segera memanggil mertua korban yang tinggal di belakang rumah kontrakan mereka untuk menurunkan jenazah.

Penyelidikan Awal dan Motif Diduga

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari penyelidikan sementara, suasana rumah tangga korban memang sedang tidak harmonis dalam dua hari terakhir sebelum kejadian. Polisi mengindikasikan adanya cekcok antara RA dengan istrinya.

AKP Thomas Bernandes Siahaan, Kasi Humas Polres Pelalawan, memberikan penjelasan mengenai akar masalahnya. "Hasil penyelidikan sementara, korban sudah 2 hari terlibat cekcok dengan istrinya sebelum ditemukan gantung diri," ujarnya.

Perselisihan itu disebutkan berawal dari uang perjalanan atau uang jalan yang seharusnya digunakan untuk operasional kerja sebagai sopir. Uang tersebut diduga habis digunakan RA untuk bermain judi online, yang kemudian memicu pertengkaran hebat dengan sang istri.

Tindak Lanjut dan Pernyataan Keluarga

Setelah mendapat laporan, personel Polres Pelalawan dan Polsek Pangkalan Kerinci segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD Selasih untuk proses visum, didampingi keluarga dan petugas.

Keluarga korban memilih untuk tidak memperpanjang proses hukum terkait kematian ini. AKP Thomas Bernandes Siahaan menegaskan keputusan tersebut. "Pihak keluarga menerima kematian korban dan menolak dilakukan autopsi yang dituangkan dalam surat pernyataan," jelasnya.

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan menjadi catatan kelam tentang tekanan ekonomi serta masalah personal yang dapat berujung pada keputusan tragis. Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan lebih mendetail masih terus dilakukan untuk memastikan kronologi dan motif pasti di balik tindakan korban.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar