Dokter di Threads Dikecam Usai Umpat Pasien BPJS: Tidak Ada yang Minta Kalian Berobat

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:50 WIB
Dokter di Threads Dikecam Usai Umpat Pasien BPJS: Tidak Ada yang Minta Kalian Berobat
PARADAPOS.COM - Seorang dokter yang aktif di media sosial Threads dengan nama akun @tamdjs menjadi sorotan publik setelah unggahannya berisi kemarahan terhadap pasien BPJS Kesehatan memicu perdebatan sengit di jagat maya. Dalam cuitannya, dokter yang diduga bernama asli Tamara Jasmine itu melontarkan kritik tajam, bahkan terkesan merendahkan, kepada pengguna layanan BPJS yang dinilainya kerap bersikap sebagai korban. Pernyataan ini muncul di tengah panasnya pemberitaan tentang kasus pasien BPJS yang kesulitan mendapatkan kamar rawat inap, sehingga memantik reaksi beragam dari warganet dan kalangan tenaga kesehatan.

Kronologi Pernyataan Kontroversial

Melalui akun Threads pribadinya, dokter tersebut menyampaikan komentar yang langsung menyita perhatian publik. Ia menyoroti perilaku pasien BPJS yang dianggapnya selalu mengeluh dan tidak mau menerima penjelasan dari pihak rumah sakit. Menurutnya, banyak pasien yang tidak memahami aturan main dalam sistem layanan kesehatan publik ini. "Rumah sakit apalagi tenaga kesehatan tidak dibayar oleh BPJS untuk kasus yang tidak sesuai aturan BPJS. Kalau dikasih tahu tuh jangan ngeyel dan sok jadi si paling korban," tulisnya dalam unggahan yang kemudian dikutip pada Rabu (5/8/2026). Ia pun melanjutkan dengan nada yang lebih keras, menegaskan bahwa pasien BPJS hanya membayar iuran kepada BPJS, bukan kepada rumah sakit atau tenaga kesehatan secara langsung. "Kalian cuma bayar ke BPJS, bukan bayar ke RS apalagi nakesnya. Jadi, nggak usah songong. Kalau gak suka, ya, gak usah berobat di situ. Tidak ada yang minta kalian berobat," tambahnya.

Kalimat Viral yang Memicu Kontroversi

Tak berhenti di situ, akun @tamdjs kembali melontarkan pernyataan yang tak kalah pedas dan langsung menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Kalimat tersebut dinilai banyak pihak sebagai bentuk pelecehan terhadap pasien yang sedang membutuhkan pertolongan medis. "Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot, biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta. Dan bisa berpendidikan biar akhlak tidak minus dan tidak playing victim," tulisnya dalam unggahan berikutnya. Pernyataan ini sontak menuai kecaman dari berbagai kalangan. Banyak warganet yang menilai bahwa sikap tersebut tidak mencerminkan etika seorang tenaga kesehatan yang seharusnya mengedepankan empati dan pelayanan prima kepada semua pasien tanpa memandang status ekonomi atau jenis asuransi yang digunakan.

Reaksi Warganet dan Sejawat Dokter

Setelah pernyataan oknum dokter tersebut menyebar luas, sejumlah netizen dan rekan sejawatnya di dunia medis turut memberikan tanggapan. Banyak yang menasihati agar akun tersebut lebih berhati-hati dalam bermedia sosial, mengingat profesinya sebagai dokter yang menjadi representasi bagi seluruh tenaga kesehatan di Indonesia. "Dok, enough lah. Lagi panas begini gak usah mengundang netizen. Titelmu itu jadi representasi semua sejawat soalnya," ujar @dr.ferrykslg dalam kolom komentar. Sementara itu, seorang warganet dengan akun Koiyo Cabe mengaku terkejut dengan kekasaran kata-kata yang digunakan. "Edan, jahat banget mbak ketikannya. Saya sangka akun Neta"," katanya. Kekhawatiran juga disampaikan oleh @ira" yang mempertanyakan proses seleksi psikologi bagi calon dokter. "Sebenarnya, jadi dokter itu dites kejiwaan gak untuk memfilter modelan seperti Tamara Jasmine? Takut banget berobat pakai BPJS Kesehatan. Kok bisa dokter ngomong, tidak ada yang minta kalian berobat," ungkapnya.

Konteks Kasus yang Melatarbelakangi

Perlu diketahui, pernyataan kontroversial ini muncul tidak lama setelah viralnya keluhan seorang pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan yang mengaku kesulitan mendapatkan kamar rawat inap di rumah sakit. Keluhan yang dibagikannya di media sosial tersebut ternyata memicu respons negatif dari sejumlah dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Kasus ini kemudian bergulir menjadi perbincangan nasional dan berakhir tragis setelah Yurizal meninggal dunia. Beberapa dokter dan tenaga kesehatan yang sebelumnya memberikan komentar sinis akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Namun, kasus ini meninggalkan pertanyaan besar tentang bagaimana sistem layanan kesehatan di Indonesia memperlakukan pasien dari berbagai latar belakang ekonomi.

Etika dan Empati dalam Layanan Kesehatan

Insiden ini membuka diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya etika komunikasi dan empati dalam dunia medis. Seorang tenaga kesehatan dituntut tidak hanya memiliki kompetensi klinis yang mumpuni, tetapi juga kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik kepada pasien dari berbagai kalangan. Sikap merendahkan atau menyalahkan pasien justru akan semakin menjauhkan masyarakat dari layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara. Di sisi lain, kasus ini juga menyoroti perlunya edukasi yang lebih baik kepada masyarakat tentang mekanisme dan aturan dalam sistem BPJS Kesehatan. Pemahaman yang kurang tentang prosedur layanan sering kali menjadi sumber kesalahpahaman antara pasien dan tenaga kesehatan di lapangan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar