Banser NU Tegaskan: Ancaman Gorok bagi yang Berani Olok-olok Ulama!

- Minggu, 19 Oktober 2025 | 02:25 WIB
Banser NU Tegaskan: Ancaman Gorok bagi yang Berani Olok-olok Ulama!

Suasana memanas di depan kantor Trans7, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/10/2025), ketika massa Banser dan Ansor menggelar unjuk rasa. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 yang diduga menghina kehidupan pesantren dan ulama Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam unjuk rasa tersebut, sebuah pernyataan keras dari seorang orator Banser menjadi viral. Orator tersebut berteriak, "Jangan sampai kader-kader Banser menggorok leher kalian! Halal darah kalian apabila kalian mengolok-olok ulama NU." Pernyataan ini memicu reaksi luas dari berbagai kalangan, baik yang menilainya sebagai bentuk kemarahan yang wajar maupun yang mengkhawatirkan potensi provokasi kekerasan.

Tuntutan dan Aksi Massa Banser

Massa yang berkumpul membawa spanduk berisi tuntutan, seperti "Hormat pada Kiai, Jaga Marwah Pesantren" dan "Trans7 Hina Ulama, Boikot Sekarang!". Aksi yang awalnya berlangsung damai kemudian memanas seiring dengan orasi yang disampaikan. GP Ansor dan Banser menyerukan protes nasional dan menyampaikan tiga tuntutan utama:

  1. Trans7 harus meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam, khususnya kalangan pesantren.
  2. Tayangan yang dianggap melecehkan harus ditarik dan dihapus permanen dari seluruh kanal media.
  3. Pihak berwenang di Trans7 yang bertanggung jawab atas produksi tayangan tersebut harus diberi sanksi hukum dan etik.

Respons Trans7 dan Reaksi Publik

Pihak Trans7 telah mengeluarkan pernyataan permintaan maaf melalui siaran pers dan media sosial. Mereka menyatakan bahwa tayangan tersebut tidak bermaksud menghina pesantren dan berjanji akan melakukan evaluasi internal. Namun, bagi sebagian massa, permintaan maaf ini dianggap belum memadai dan menuntut tindakan yang lebih nyata.

Pandangan Internal NU dan Implikasi Sosial

Meski memahami kemarahan yang melatarbelakangi aksi tersebut, sejumlah tokoh NU mengimbau agar Banser tidak terjerumus pada kekerasan verbal atau fisik. Seorang kiai muda NU menegaskan, "Banser harus tetap menjadi penjaga ulama, bukan penebar ancaman. Marwah kita ada pada kedisiplinan dan kesantunan."

Peristiwa ini menyoroti meningkatnya sensitivitas publik terhadap isu keagamaan yang melibatkan lembaga pesantren dan kiai. NU, sebagai organisasi dengan basis massa terbesar di Indonesia, memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas sosial-keagamaan. Ketegangan semacam ini berpotensi memicu polarisasi jika tidak dikelola dengan baik, sekaligus menjadi pengingat bagi media massa untuk lebih berhati-hati dalam memproduksi konten yang menyentuh aspek keagamaan.

Hingga Jumat malam, situasi di sekitar kantor Trans7 dilaporkan telah kondusif setelah intervensi aparat kepolisian. Namun, perdebatan di ruang digital terus berlanjut, memperbincangkan batas antara kebebasan berekspresi, kehormatan ulama, dan ujaran kebencian. Masyarakat berharap semua pihak dapat menyelesaikan persoalan ini melalui jalur dialog dan hukum, bukan kekerasan, demi menjaga perdamaian dan ketenangan umat.

Sumber: https://moneytalk.id/2025/10/18/halal-darahnya-banser-ancam-gorok-yang-mengolok-olok-ulama/

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar