Menkeu Kritik Analisis Ekonomi di TikTok dan YouTube: Kita Nggak Perlu Takut

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:50 WIB
Menkeu Kritik Analisis Ekonomi di TikTok dan YouTube: Kita Nggak Perlu Takut

PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik sejumlah analisis ekonomi yang beredar luas di platform media sosial seperti TikTok dan YouTube. Menurutnya, narasi yang menyatakan ekonomi Indonesia akan hancur jika harga minyak dunia melonjak akibat gejolak global tidak didasari oleh data yang utuh dan mengabaikan catatan historis ketahanan perekonomian nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Kritik terhadap Analisis di Media Sosial

Purbaya secara khusus menyoroti maraknya konten yang memprediksi kehancuran ekonomi Indonesia. Ia menilai kesimpulan-kesimpulan tersebut muncul tanpa mempertimbangkan pengalaman nyata negara ini dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas energi di masa lalu. Dengan nada tegas, sang menteri mengajak publik untuk tidak mudah khawatir oleh ramalan-ramalan yang tidak berdasar.

“Jadi kita nggak usah takut. Analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali nggak pernah melihat data,” tegas Purbaya di hadapan forum kabinet.

Bukti Historis Ketahanan Ekonomi

Dalam paparannya, Purbaya mengajak melihat kembali beberapa episode krusial. Ia mencontohkan periode 2007–2008, ketika harga minyak jenis Brent sempat melambung hingga menembus angka 220 dolar AS per barel. Situasi yang tampak berat itu ternyata masih bisa dihadapi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa itu tercatat tetap positif di level sekitar 4,6 persen.

“Tapi dengan kebijakan yang pas, fiskal dan moneter pada waktu itu, kita masih bisa tumbuh 4,6 persen. Jadi kita cukup cermat bisa mengendalikan hal itu,” lanjutnya, menekankan peran krusial kebijakan pemerintah.

Contoh lain diangkat dari tahun 2011, saat harga minyak bertengger di kisaran 110–120 dolar AS per barel. Indikator ekonomi domestik saat itu dinilai masih menunjukkan performa yang positif. Pola serupa terulang pasca pandemi Covid-19, di mana ekonomi Indonesia mampu bertahan meski harga minyak kembali menembus level 100 dolar AS per barel.

Pentingnya Kebijakan yang Tepat

Berdasarkan rentetan pengalaman itu, Purbaya menyimpulkan bahwa gejolak harga energi global tidak serta merta menjadi vonis bagi perekonomian nasional. Kunci utamanya terletak pada kemampuan pemerintah untuk merancang dan menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif dan tepat sasaran. Pengetahuan dari lapangan ini menjadi fondasi argumennya bahwa Indonesia memiliki modal untuk menghadapi ketidakpastian.

“Artinya kalau kita punya kebijakan yang pas, moneter maupun fiskal dan kebijakan bapak nantinya, walaupun global ekonomi harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara atau pengalaman untuk mengendalikan dampaknya ke perekonomian. Jadi kita nggak perlu takut Pak,” tandasnya, menyampaikan keyakinan bahwa dengan pengelolaan yang cermat, dampak gejolak eksternal dapat diredam.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar