PARADAPOS.COM – Sebuah kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang baru saja ditandatangani menuai analisis kritis dari kalangan peneliti ekonomi. Inti kekhawatirannya terletak pada komitmen Indonesia untuk membeli produk pertanian AS senilai lebih dari US$4,5 miliar, yang dinilai berpotensi membebani negara karena harga komoditas dari AS relatif lebih mahal dibandingkan sumber impor lain di pasar global.
Analisis Harga yang Berpotensi Memberatkan
Eliza Mardian, seorang peneliti dari lembaga kajian ekonomi CORE Indonesia, menyoroti persoalan harga sebagai titik krusial. Dalam paparannya di Jakarta, Rabu (25/2/2026), ia membeberkan perbandingan harga yang cukup signifikan untuk beberapa komoditas kunci.
“Beberapa komoditas pangan dari AS itu relatif mahal dibandingkan yang biasa kita beli,” ungkapnya.
Ia memberikan contoh konkret: harga jagung dari Argentina tercatat US$193 per metrik ton, sementara dari AS US$194. Untuk gandum, Rusia menawarkan harga US$228 per MT, sedangkan AS di angka US$233. Selisih yang lebih besar terlihat pada kedelai, di mana Argentina menjual US$405 per MT dan AS US$418 per MT. Perbedaan beberapa dolar per metrik ton ini, ketika dikalikan dengan volume impor yang masif, dapat membentuk nilai tambah pembayaran yang sangat besar.
“Jadi karena kesepakatan itu, kita beli terpaksa dengan harga relatif mahal, bukan lagi mempertimbangkan kompetitif barang,” lanjut Eliza, menegaskan bahwa pilihan sumber impor seolah telah terkunci.
Rincian Komitmen dan Implikasinya
Kesepakatan yang diteken pada 19 Februari 2026 itu memang mencakup volume pembelian yang tidak kecil untuk jangka waktu lima tahun. Indonesia berkomitmen mengimpor sedikitnya 3,5 juta metrik ton kedelai dan 3,8 juta metrik ton bungkil kedelai per tahun dari AS. Untuk gandum, komitminnya mencapai 2 juta metrik ton per tahun, dan untuk kapas sebanyak 163.000 metrik ton per tahun.
Dalam pandangan peneliti, skema komitmen pembelian jangka panjang dengan harga di atas pasar ini berisiko menciptakan tekanan pada neraca perdagangan. Indonesia, alih-alih bisa leluasa memilih pemasok dengan harga terbaik, justru terikat pada sumber yang kurang kompetitif secara harga. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang strategi negosiasi dan pertimbangan geopolitik yang mungkin lebih dominan dibandingkan perhitungan ekonomi murni.
Mencari Solusi untuk Melindungi Pasar Domestik
Menghadapi realitas tersebut, Eliza menekankan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam. Perlu ada langkah-langkah antisipatif untuk melindungi industri dan petani dalam negeri dari dampak lanjutan. Salah satu opsi kebijakan yang diusulkan adalah pemberian subsidi yang tepat sasaran.
Misalnya, subsidi untuk jagung lokal sebagai bahan pakan ternak dapat dialirkan kepada peternak skala kecil. Kebijakan seperti ini dinilai mampu menciptakan manfaat ganda: mendorong penggunaan produksi dalam negeri sekaligus menopang daya saing peternak lokal. Proteksi terhadap petani dan peternak disebutnya tetap krusial untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Kekhawatiran utama adalah jika petani dalam negeri menjadi enggan bertanam karena kalah bersaing dengan produk impor yang masuk melalui skema khusus ini. Penurunan produksi domestik, sementara kebutuhan konsumsi terus meningkat, hanya akan memperdalam ketergantungan pada impor. Pada akhirnya, kondisi itu dapat membuat Indonesia lebih rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga di masa depan.
Analisis ini menggarisbawahi bahwa di balik kesepakatan dagang yang seringkali diumumkan dengan fanfare, terdapat perhitungan ekonomi mikro yang rumit. Efektivitas kesepakatan akan benar-benar diuji pada implementasinya, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan diplomatik dan ketahanan ekonomi nasional.
Artikel Terkait
Ketua Komisi XI DPR Soroti Pentingnya Pemulihan Sistem Pembayaran di Daerah Bencana
Program Makan Bergizi di Purworejo Tetap Berjalan dengan Menu Variatif Selama Ramadan
Pemerhati Jakarta Desak Sterilisasi Jalur Transjakarta Hadapi Lonjakan Penumpang
Menteri Transmigrasi Canangkan Papua Sebagai Pusat Ekonomi Biru Baru