PARADAPOS.COM - Perayaan Hari Raya Waisak di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu, 31 Mei 2025, berhasil menyedot perhatian warga ibu kota. Ruang publik ikonik itu berubah menjadi panggung harmoni yang menampilkan toleransi lintas iman, menarik pengunjung dari berbagai latar belakang, dan menuai apresiasi luas atas inovasi pemerintah daerah yang memberikan ruang setara bagi perayaan keagamaan.
Waisak di Bundaran HI: Toleransi yang Terasa Nyata
Suasana di Bundaran HI malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar ritual keagamaan, atmosfernya begitu inklusif. Lampu-lampu lampion yang berpendar, replika Candi Borobudur, hingga patung Buddha menjadi daya tarik visual yang memikat. Warga yang lalu lalang tampak antusias mengabadikan momen, tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Sisilia, 59, seorang warga penganut agama Buddha, mengaku sangat bahagia melihat perhatian yang setara dari pemerintah daerah. Ia menilai inovasi pemanfaatan area publik terbuka ini mampu menyuntikkan semangat spiritualitas yang tinggi bagi para pemeluknya.
“Pastinya bagus ya. Jangan hanya momen Idulfitri atau Natal saja. Waisak juga umatnya banyak,” ujarnya saat berbincang di Bundaran HI.
Sekat Keyakinan Melebur di Tengah Keramaian
Yang menarik, perayaan ini tidak hanya dinikmati oleh umat Buddha. Sisilia menyaksikan sendiri bagaimana sekat-sekat perbedaan keyakinan melebur secara alami di antara para pengunjung yang memadati lokasi.
“Saya lihat yang foto-foto tidak hanya dari agama Buddha saja. Banyak juga yang Muslim. Mereka ikut berfoto dan saling membantu mengambilkan foto,” lanjutnya.
Pemandangan itu menjadi bukti nyata bahwa ruang publik bisa menjadi simpul toleransi yang menyejukkan. Keberhasilan Pemprov DKI Jakarta dalam menyulap taman kota menjadi panggung harmoni ini memicu harapan besar di tengah masyarakat. Mereka berharap terobosan positif ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan menjadi tradisi tahunan dengan skala yang jauh lebih kolosal.
“Menurut saya ini sudah lumayan. Mudah-mudahan tahun depan lebih bagus lagi dan lebih meriah,” tutur Sisilia.
Pesona Visual yang Viral di Media Sosial
Pesona visual perayaan ini rupanya juga berhasil memikat masyarakat dari luar daerah. Rian Saputra, 24, perantau asal Bangka Belitung, mengaku sengaja datang langsung ke lokasi setelah melihat cuplikan kemeriahannya yang viral di media sosial.
Ia terpukau dengan instalasi seni spiritual yang dihadirkan di pusat kota, mulai dari replika megah Candi Borobudur, patung Buddha, hingga lorong benderang yang dipenuhi pendaran lampion-lampion cantik.
“Karena acara ini malam kan kelihatan bagus untuk lampu-lampunya, makanya penasaran mau melihat di sini,” kata Rian.
Perayaan Waisak di Bundaran HI tahun ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah cermin indahnya keberagaman di Jakarta. Ruang publik yang biasanya identik dengan hiruk-pikuk perkotaan, untuk sementara waktu berubah menjadi oase spiritual yang menyatukan perbedaan.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polres Semarang Tetapkan Pelajar 16 Tahun sebagai Pelaku Pembelian Senjata Tajam via Instagram
Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Perdamaian dalam Peringatan Waisak 2570 BE
5.000 Umat Buddha dari Berbagai Daerah Rayakan Waisak ke-22 di Candi Sewu Klaten
TNI AD Berduka: Mantan Menhan dan Kasad Ryamizard Ryacudu Tutup Usia