PARADAPOS.COM - Masjid Jami Koba, yang berdiri megah di jantung Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah, bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini merupakan masjid tertua di wilayah tersebut, menyimpan sejarah panjang yang berawal dari pembangunannya pada 1970 di atas lahan bekas kompleks keresidenan Belanda. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan umat Islam sekaligus simbol warisan budaya yang terus dilestarikan.
Sejarah Panjang di Atas Tanah Bersejarah
Nilai historis Masjid Jami Koba terasa begitu kental ketika menelusuri asal-usul lokasinya. Sebelum menjadi rumah ibadah, kawasan di sekitar Bundaran Tugu Ikan itu merupakan bekas bangunan rumah kepresidenan atau keresidenan pada masa kolonial Belanda. Pembangunan fisik masjid kemudian dimulai pada tahun 1970 dan diresmikan setahun setelahnya, menandai awal perannya sebagai pusat keislaman masyarakat.
Seiring bertambahnya jemaah, bangunan ini pun mengalami beberapa kali pembenahan. Namun, perubahan paling signifikan terjadi melalui renovasi besar yang dimulai akhir 2008. Proses pembaruan itu memakan waktu pengerjaan cukup lama, kurang lebih satu dekade, untuk menyempurnakan tampilan dan fungsinya.
Memadukan Warisan dan Pembaruan
Meski telah mengalami transformasi besar, pengurus masjid dengan sengaja mempertahankan elemen-elemen inti dari bangunan lama. Enam tiang penyangga asli di bagian tengah masjid tetap dibiarkan berdiri kokoh. Keberadaan tiang-tiang tersebut bukan hanya sebagai penopang struktural, melainkan juga sebagai saksi bisu perjalanan sejarah tempat ini.
Kini, tiang bersejarah itu berpadu harmonis dengan desain arsitektur baru, balutan cat segar, dan sentuhan artistik modern, menciptakan sebuah harmoni antara masa lalu dan masa kini.
Arsitektur yang Mengedepankan Identitas Lokal
Dari segi desain, Masjid Jami Koba dengan jelas mengusung identitas kultural masyarakat setempat. Arsitekturnya mengadopsi nuansa adat Melayu Bangka yang kuat, sebuah pilihan yang terlihat mencolok pada bentuk kubah utamanya.
“Ciri khas budaya lokal ini tampak jelas pada bentuk kubah utamanya yang didesain menyerupai tudung saji,” jelas pengelola masjid mengenai filosofi di balik rancangan bangunan.
Selain kubah yang unik, masjid ini memiliki tiga pintu utama berpanel kaca. Setiap daun pintu dihiasi ukiran kaligrafi Arab yang rumit, menambah kesan artistik dan religius sekaligus menyambut jemaah dengan nuansa yang Islami dan penuh kearifan lokal.
Artikel Terkait
Terdakwa Korupsi LNG Desak Ahok Dimintai Keterangan sebagai Saksi
MSIG Life Bayarkan Klaim Rp1,07 Triliun di Tengah Lonjakan Biaya Medis
Jamu Coro Tetap Jadi Primadona Takjil di Demak Saat Ramadan
Kemenag dan British Council Latih Lebih dari 600 Guru Bahasa Inggris Madrasah