Jusuf Kalla Prihatin atas Serangan AS-Israel yang Tewaskan Pemimpin Iran Ali Khamenei

- Minggu, 01 Maret 2026 | 18:25 WIB
Jusuf Kalla Prihatin atas Serangan AS-Israel yang Tewaskan Pemimpin Iran Ali Khamenei

PARADAPOS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilancarkan akhir pekan lalu. Serangan skala besar yang menyasar puluhan target militer strategis di Iran itu juga dikabarkan menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai ratusan lainnya. Menanggapi perkembangan ini, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan rasa prihatin dan duka mendalam.

Pernyataan Duka dari Jusuf Kalla

Jusuf Kalla mengungkapkan keprihatinannya atas eskalasi konflik yang terjadi justru di bulan suci Ramadan. Ia menyoroti ironi situasi di mana serangan dilancarkan saat Iran dan AS disebut sedang dalam proses perundingan.

"Dalam bulan suci Ramadan ini, kita merasa sangat prihatin begitu banyak perang di dunia ini, khususnya menyangkut di dunia Islam. Kemarin kita mengetahui bagaimana Amerika-Israel menyerang Iran. Padahal Iran dan Amerika sedang berunding," ujar JK kepada wartawan di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (1/3/2026).

Dia menambahkan kritiknya terhadap etika politik internasional dalam situasi tersebut. Menurutnya, tindakan militer di tengah jalur diplomasi merupakan sebuah langkah yang patut disesalkan.

"Dari segi etik, kalau sedang berunding jangan serang kan? Ini memang keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan karena gejala Amerika menyerang apa saja yang mereka tidak sesuai dengan pandangan-pandangannya," jelasnya.

Nuansa Kompleks di Dalam Negeri Iran

Meski menyatakan duka, JK dengan hati-hati mengakui realitas politik internal Iran yang tidak monolitik. Ia menggambarkan adanya perbedaan sikap di antara berbagai kelompok masyarakat Iran menyikapi kepemimpinan Khamenei selama ini.

"Kita tentu sangat bersedih bahwa pimpinan Iran Ali Khamenei wafat. Walaupun tentu juga di Iran sendiri terjadi pergolakan. Banyak di Iran ada tiga kelompok, kelompok pemerintah, juga kelompok yang ingin perubahan reformasi setelah 39 tahun yang terjadi kita tahu begitu banyak demonstrasi sebulan yang lalu," ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terdapat elemen tertentu dalam masyarakat Iran yang mungkin menyambut perubahan ini, meski hal itu tidak mengurangi rasa belasungkawanya.

"Kemudian, kelompok monarki yang lama Pahlavi. Nah, ini dua kelompok ini tentu senang saja adanya situasi ini. Jadi tidak semua memang Iran itu ada suatu. Namun demikian, dengan membunuh pimpinan Ali Khamenei itu juga suatu hal yang sangat kita sayangkan dan kita bersedih dan berduka karena hal tersebut," tuturnya.

Serangan Skala Besar dan Korban Jiwa

Operasi militer gabungan yang memicu krisis ini dimulai pada Sabtu, 28 Februari. Sasaran serangan, menurut laporan, mencakup fasilitas komando Garda Revolusi Iran (IRGC), lokasi peluncuran rudal dan drone, lapangan terbang militer, serta jaringan pertahanan udara.

Lembaga Bulan Sabit Merah Iran melaporkan korban jiwa mencapai lebih dari 200 orang dengan hampir 750 orang terluka. Dampak serangan dirasakan luas, menghantam 24 dari 31 provinsi di negara tersebut. Sebuah laporan yang masih diselidiki oleh Komando Pusat AS (Centcom) menyebutkan sebuah sekolah perempuan di Iran selatan juga menjadi korban, dengan puluhan siswi dilaporkan tewas.

Di sisi lain, Angkatan Udara Israel disebut melakukan gelaran serangan udara terbesar dalam sejarahnya, dengan lebih dari 200 pesawat tempur menyerang berbagai target. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menghantam lebih dari 500 target, termasuk sistem pertahanan udara dan peluncur rudal di wilayah barat dan tengah Iran.

Harapan untuk Penghentian Kekerasan

Mengakhiri pernyataannya, Jusuf Kalla menyerukan perdamaian dan mengajak untuk mendoakan penghentian konflik. Ia menyadari kompleksitas upaya mendamaikan situasi, namun menekankan pentingnya suara dari negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia.

"Dan Indonesia tentu sebagai negara yang mayoritas Islam, apalagi di bulan Ramadan ini tentu berupaya bagaimana kita setidak-tidaknya menyerukan, mendoakan ini agar berhenti segera situasi ini. Karena untuk mendamaikan itu sulit sekali dan tidak mungkin kita lakukan seperti apa yang kita harapkan seperti itu," tutupnya.

Kematian Ali Khamenei, sebuah figur sentral dalam empat dekade terakhir Iran, diprediksi akan membawa konsekuensi geopolitik yang mendalam dan berjangka panjang, membuka babak baru yang tidak pasti di kawasan Timur Tengah.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar