Harga Pakan Unggas Turun Sejak Februari, Beban Biaya Produksi Peternak Diringankan

- Jumat, 06 Maret 2026 | 04:50 WIB
Harga Pakan Unggas Turun Sejak Februari, Beban Biaya Produksi Peternak Diringankan

PARADAPOS.COM - Harga pakan unggas di Indonesia menunjukkan tren penurunan sejak Februari hingga awal Maret 2026. Kementerian Pertanian mencatat penurunan ini sebagai langkah positif untuk meringankan beban biaya produksi peternak dan menjaga stabilitas harga produk peternakan di tingkat konsumen. Data resmi menunjukkan penyesuaian harga terjadi pada berbagai jenis pakan, meski belum diikuti secara serentak oleh seluruh produsen.

Kabar Baik untuk Peternak

Periode awal tahun 2026 membawa angin segar bagi sektor peternakan nasional. Kementerian Pertanian, melalui Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA), melaporkan adanya koreksi harga pakan unggas di tingkat produsen. Perkembangan ini dinilai dapat membantu menekan biaya operasional peternak, yang selama ini sangat bergantung pada pasokan pakan pabrikan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi industri protein hewani dalam negeri.

"Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena akan membantu menurunkan biaya produksi," jelasnya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan bahwa efisiensi di rantai hulu ini sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat terhadap produk-produk peternakan seperti ayam dan telur.

Rincian Penyesuaian Harga

Laporan Kementan mengungkapkan, penurunan paling signifikan terjadi pada pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1). Rata-rata harganya turun Rp112 per kilogram, dengan beberapa produsen bahkan melakukan penyesuaian hingga Rp600 per kilogram. Saat ini, harga rata-ratanya berkisar di Rp8.010 per kilogram.

Jenis pakan lain juga mengalami tren serupa. Pakan Broiler Pre-Starter (BR0) turun rata-rata Rp82 menjadi Rp8.451 per kilogram. Sementara itu, pakan Broiler Finisher (BR2) turun Rp89 menjadi Rp7.967 per kilogram. Di sektor petelur, Pakan Layer Masa Produksi (P3) turun Rp86 menjadi Rp6.803 per kilogram, dan Konsentrat Layer (KP3) turun Rp74 menjadi Rp7.735 per kilogram.

Namun, perlu dicatat bahwa penurunan ini belum merata. Dari 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi, baru sekitar 33 pabrik atau 38 persen yang telah menyesuaikan harga jualnya. Kondisi ini menunjukkan dinamika pasar yang masih berlangsung di antara para pelaku industri.

Fokus pada Bahan Baku Lokal

Di balik penurunan harga, upaya efisiensi dan optimalisasi rantai pasok bahan baku terus digencarkan. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, menyatakan komitmen industri untuk menjaga harga tetap kompetitif.

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif," ungkapnya.

Upaya ini sejalan dengan arahan kebijakan pemerintah yang fokus pada penguatan produksi jagung nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya swasembada bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Dalam berbagai kesempatan, ia menyoroti capaian Indonesia yang telah berhenti mengimpor jagung pakan dan bahkan mulai mengekspor ke negara seperti Malaysia dan Filipina. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk menstabilkan harga pangan melalui penguatan fondasi di sektor hulu pertanian dan peternakan.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar