Houthi Lancarkan Serangan Langsung ke Israel, Ancam Stabilitas Kawasan dan Jalur Perdagangan Global

- Selasa, 31 Maret 2026 | 11:25 WIB
Houthi Lancarkan Serangan Langsung ke Israel, Ancam Stabilitas Kawasan dan Jalur Perdagangan Global

PARADAPOS.COM - Kelompok Houthi di Yaman meluncurkan serangan langsung ke Israel pada Sabtu, 28 Maret 2026, membuka front baru dalam konflik kawasan yang sudah memanas. Langkah ini berpotensi mengganggu stabilitas regional dan jalur perdagangan maritim global yang vital, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas. Siapa sebenarnya kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, ini?

Profil Kelompok Houthi: Kekuatan Regional yang Diperhitungkan

Kelompok Houthi bukanlah pemain baru di peta geopolitik Timur Tengah. Sejak merebut kendali atas Sanaa pada 2014, mereka telah terlibat dalam perang saudara yang panjang melawan pemerintah Yaman yang diakui internasional, yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Kelompok ini secara resmi ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Dukungan strategis dari Iran telah memperkuat kemampuan ofensif Houthi, memungkinkan mereka untuk mengembangkan dan meluncurkan serangan menggunakan drone serta rudal ke target di luar perbatasan Yaman. Selama perang di Gaza, mereka telah menunjukkan kemampuan tersebut dengan menyerang kapal-kapal yang melintasi Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, sebuah tindakan yang memaksa perubahan rute pelayaran dan mendongkrak biaya logistik global.

Dampak Strategis: Ancaman di Jalur Perdagangan Vital

Pengaruh Houthi tidak lepas dari posisi geografis mereka yang sangat strategis. Berbasis di wilayah pegunungan yang mengawasi Laut Merah, mereka memiliki kemampuan untuk mengganggu salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Laut Merah menangani sekitar 15% perdagangan maritim global, berfungsi sebagai arteri utama yang menghubungkan Eropa dengan Asia melalui Terusan Suez. Pada puncak konflik sebelumnya, serangan-serangan mereka memaksa banyak kapal dagang menghindari Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menjadi gerbang menuju Suez. Gangguan berkelanjutan, apalagi di saat Selat Hormuz juga berada dalam tekanan geopolitik, berpotensi menghambat aliran energi global dari dua sisi Semenanjung Arab sekaligus.

Guncangan di Pasar Energi Global

Pasar komoditas energi langsung merespons perkembangan terbaru ini dengan kecemasan. Para analis di sektor energi memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melonjak antara 5 hingga 10 dolar AS per barel jika gangguan di jalur Bab el-Mandeb menjadi signifikan.

Preseden pada 2024 telah membuktikan efektivitas taktik Houthi. Saat itu, serangan mereka menyebabkan penurunan aliran minyak dan melonjaknya tarif pengiriman akibat perubahan rute kapal yang memakan waktu dan biaya lebih besar. Gangguan baru dalam konteks geopolitik saat ini, yang sudah rentan, dapat memberikan dampak yang lebih dalam terhadap pasokan minyak mentah dan produk turunannya, serta mendorong pemerintah berbagai negara untuk merumuskan kebijakan darurat.

Motivasi di Balik Keterlibatan Langsung

Pertanyaan besar banyak pengamat adalah mengapa Houthi kini memilih untuk terlibat secara langsung dengan menyerang Israel. Padahal, setelah konflik Gaza pecah, kelompok ini sempat memberikan sinyal tanpa langsung mengambil tindakan nyata.

Juru bicara militer mereka pernah menyatakan kesiapan tersebut dengan nada tegas. Hampir sebulan setelah pernyataan itu, barulah serangan menggunakan rudal jelajah dan drone dilancarkan. Para pengamat konflik regional melihat keterlibatan ini hampir tak terelakkan, mengingat hubungan simbiosis yang erat dengan Iran.

“Mereka mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlibat, tetapi pada akhirnya harus membalas dukungan Iran,”

ungkap seorang analis yang mempelajari dinamika kawasan. Serangan awal yang secara spesifik menargetkan Israel dinilai sebagai upaya hati-hati untuk menjaga keseimbangan, menunjukkan solidaritas tanpa serta-merta memicu eskalasi balasan yang masif dari pihak lain.

Batas Eskalasi dan Pertimbangan Masa Depan

Sejauh ini, langkah Houthi tampak masih dalam kerangka menguji batas. Mereka telah menyerang Israel, namun menghindari untuk menargetkan aset Amerika Serikat atau mengganggu jalur pelayaran utama secara frontal pada gelombang serangan terkini.

Pendekatan ini mencerminkan perhitungan strategis yang matang. Bagi banyak pihak di pasar global, ancaman gangguan saja sebenarnya sudah cukup untuk mempengaruhi keputusan logistik dan asuransi. Meski mendapat dukungan dari Teheran, Houthi tetap memiliki otonomi dan pertimbangan internalnya sendiri.

Keterlibatan yang lebih dalam berisiko tinggi memicu serangan balasan langsung dari AS atau Israel, sebuah skenario yang dapat memperparah kondisi dalam negeri Yaman yang sudah sangat memprihatinkan. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sekitar separuh populasi Yaman menghadapi kerawanan pangan akut. Realitas humanitarian yang suram ini kemungkinan akan menjadi faktor pembatas utama dalam menentukan sejauh mana kelompok Houthi akan melangkah dalam konflik yang semakin meluas ini.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar