Rupiah Melemah ke Rp17.604 per Dolar AS di Tengah Klaim Utang Aman dan Intervensi Agresif BI

- Jumat, 15 Mei 2026 | 02:50 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.604 per Dolar AS di Tengah Klaim Utang Aman dan Intervensi Agresif BI

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data yang dihimpun dari pasar spot, rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,43 persen ke level Rp 17.604 per dolar AS pada Jumat, 15 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah pernyataan pemerintah yang mengklaim posisi utang negara yang hampir mencapai Rp 10.000 triliun masih dalam batas aman, serta intervensi agresif Bank Indonesia di pasar domestik dan offshore.

Rupiah Tertekan di Pasar Spot

Pada perdagangan Jumat pagi hingga pukul 09.00 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 17.604 per dolar AS. Posisi ini melemah cukup signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.529 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah tercatat di level Rp 17.496 pada Rabu, 13 Mei 2026. Angka ini sebenarnya menguat 18 poin dari posisi Rp 17.514 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, menunjukkan betapa cepatnya sentimen berubah dalam sepekan terakhir.

Tekanan terhadap mata uang Garuda ini tidak lepas dari situasi global yang masih panas. Pasar masih mencerna pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi "kritis". Penolakan Teheran terhadap proposal yang didukung AS untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz membuat ketidakpastian geopolitik tetap tinggi. Akibatnya, jalur transit minyak global utama itu terus terganggu, memicu kekhawatiran inflasi berkepanjangan akibat kenaikan harga energi dan memperumit prospek suku bunga global.

Utang Rp 9.920 Triliun: Pemerintah Klaim Masih Aman

Di tengah gejolak nilai tukar, pemerintah melalui Menteri Keuangan angkat bicara mengenai posisi utang negara. Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pemerintah mengaku posisi utang yang hampir menyentuh angka Rp 10.000 triliun masih dalam kondisi aman.

"Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun," jelasnya.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, posisi utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini naik 2,9 persen dari level Rp 9.637,99 triliun pada Desember 2025. Dari total tersebut, mayoritas utang masih berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.

Rasio Utang Masih di Bawah Batas Aman

Dilihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jumlah itu masih di posisi 40,75 persen. Angka ini berada di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60 persen PDB. Menurut Ibrahim, rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain karena pemerintah mengelola utang secara cermat dan terukur. Sebagai perbandingan, utang Singapura berada di level 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia mencatatkan rasio lebih dari 60 persen dari PDB.

BI Siap Intervensi Agresif

Meskipun Kamis dan Jumat merupakan hari cuti bersama, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Bank sentral terus melakukan intervensi di pasar offshore melalui Non Deliverable Forward (NDF) guna menstabilkan nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global. Intervensi ini dilakukan secara berkesinambungan di pasar New York, Asia, dan Eropa.

Tak hanya itu, BI juga berencana melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan pada 18 Mei 2026. Langkah ini akan mencakup intervensi di pasar valas, baik spot maupun Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.470—Rp 17.530," ujar Ibrahim menambahkan proyeksinya.

Di lapangan, para pelaku pasar tampak masih wait and see. Sentimen eksternal yang rapuh dan ketidakpastian geopolitik membuat pergerakan rupiah sulit diprediksi dalam jangka pendek. Namun, dengan intervensi ganda yang dilakukan BI, diharapkan tekanan terhadap rupiah bisa sedikit teredam saat pasar kembali dibuka pekan depan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar