Kisah Prajurit Kopassus: Bertahan Hidup dengan Air Bekas Kuda dalam Misi PBB di Bosnia

- Rabu, 08 April 2026 | 22:00 WIB
Kisah Prajurit Kopassus: Bertahan Hidup dengan Air Bekas Kuda dalam Misi PBB di Bosnia

PARADAPOS.COM - Pengorbanan tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon kembali mengingatkan publik akan risiko tinggi yang dihadapi kontingen Garuda di medan konflik. Di balik setiap misi, tersimpan kisah ketangguhan dan daya juang luar biasa, seperti yang dialami seorang prajurit Kopassus bernama Sumardi, atau yang akrab disapa Mardi Rambo, saat bertugas di Bosnia. Pengalamannya, termasuk harus bertahan hidup dengan meminum air bekas kuda, menjadi gambaran nyata tentang tantangan ekstrem di lapangan.

Misi Perdamaian dan Cerita di Balik Layar

Sebagai bagian dari politik luar negeri bebas aktif, Indonesia telah mengirimkan pasukan perdamaian PBB sejak 1957. Perjalanan panjang ini tidak hanya diwarnai oleh dedikasi, tetapi juga oleh momen-momen heroik dan unik yang jarang terungkap. Salah satu cerita yang menonjol berasal dari Prajurit Kopassus Pelda Sumardi, yang karir operasionalnya jauh melampaui rata-rata rekan sejawatnya.

Dengan keahlian khusus di bidang zeni dan demolisi, Mardi tercatat telah diturunkan ke 14 medan operasi yang berbeda—sebuah angka yang sangat langka. Biasanya, seorang prajurit elit seperti Kopassus paling banyak hanya mengalami empat kali penugasan operasional. Rekor ini sendiri sudah berbicara tentang pengalaman dan ketahanan fisik serta mental yang dimilikinya.

Survival di Bosnia dan Pengalaman Pertama "Mendarat"

Salah satu misi berkesan yang dijalaninya adalah di Bosnia. Dalam operasi yang sarat bahaya tersebut, situasi memaksanya untuk mengambil langkah bertahan hidup yang ekstrem, termasuk mengonsumsi air yang telah digunakan oleh kuda. Momen-momen seperti ini menguji batas kemampuan survival yang telah dilatihnya secara ketat.

Selain itu, Mardi Rambo juga membagikan pengalaman personal yang terdengar sederhana namun penuh makna bagi seorang penerjun. Ia mengungkapkan kegembiraannya yang unik saat pertama kali benar-benar merasakan pesawat mendarat dalam perjalanan menuju Bosnia.

"Senang sekali ke Bosnia. Pesawat itu take off kemudian landing. Ternyata landing itu wuenaaakk sekali," tuturnya, mengenang momen tersebut.

Rupanya, itu adalah pengalaman pertamanya merasakan proses pendaratan pesawat secara utuh. Dalam penugasan-penugasan sebelumnya yang melibatkan terjun bebas, ia selalu melompat keluar dari pesawat saat masih di udara, sebelum pesawat mencapai landasan tujuan.

Dibentuk oleh Latihan yang Menguji Nyawa

Ketangguhan prajurit seperti Mardi Rambo bukanlah hal yang instan. Kemampuan bela diri dan tempur mereka yang telah diakui, merupakan hasil dari proses pelatihan yang sangat berat dan berlapis. Kopassus dikenal dengan program latihan yang dirancang untuk menguji batas maksimal manusia, baik secara fisik maupun psikologis.

Beberapa latihan inti yang membentuk mereka antara lain latihan penyelaman di kolam dalam, latihan dropper yang ekstrem, dan latihan survival di lingkungan hutan yang paling keras. Latihan menyelam, contohnya, sering dilakukan di kedalaman yang signifikan, mengasah kemampuan operasi bawah air. Semua rangkaian latihan ini bertujuan untuk memastikan setiap personel siap menghadapi skenario terburuk di medan tugas mana pun, termasuk dalam misi perdamaian dunia yang penuh ketidakpastian.

Kisah-kisah seperti yang dialami Mardi Rambo memberikan konteks yang lebih dalam tentang makna pengabdian seorang prajurit perdamaian. Di balik seragam biru PBB, terdapat disiplin baja, keahlian tempur tingkat tinggi, dan semangat pantang menyerah yang telah ditempa oleh latihan paling ketat—kualitas yang mutlak diperlukan untuk bertahan dan menjalankan tugas di tengah ancaman konflik bersenjata.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar