Serangan Udara Beirut Tewaskan 303 Jiwa, Sistem Kesehatan di Ambang Kehancuran

- Jumat, 10 April 2026 | 01:50 WIB
Serangan Udara Beirut Tewaskan 303 Jiwa, Sistem Kesehatan di Ambang Kehancuran

PARADAPOS.COM - Beirut, Lebanon, menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin dalam pasca serangan udara masif yang melanda lebih dari 100 target pada Rabu, 9 April 2026. Serangan ini menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai 1.150 lainnya, mendorong sistem kesehatan negara yang sudah rapuh ke ambang kehancuran. Di tengah resesi ekonomi yang berkepanjangan, rumah sakit-rumah sakit kini berjuang menghadapi kelangkaan pasokan medis, pemadaman listrik, dan lonjakan korban jiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Koridor Rumah Sakit yang Mencekam

Suasana genting terasa di Rumah Sakit American University of Beirut (AUB). Koridor dan ruang gawat darurat dipenuhi korban, termasuk anak-anak yang terpisah dari keluarga mereka, setelah gelombang serangan menerjang. Tenaga medis bekerja tanpa henti menangani ratusan warga sipil yang terluka.

Dr. Salah Zeineldine, Kepala Medis AUB, menggambarkan betapa cepatnya situasi berubah menjadi tragedi. "Dalam kurang dari satu jam, kami menerima sekitar 76 orang terluka. Sayangnya, enam orang tidak berhasil selamat," jelasnya. Ia menegaskan bahwa fasilitasnya kini berfungsi sebagai pusat evakuasi utama.

Beban di Pundak Sistem yang Sudah Rapuh

Data resmi dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengonfirmasi besarnya korban jiwa, di mana setidaknya 110 di antaranya adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Dr. Zeineldine menyoroti penderitaan pasien termuda, termasuk bayi yang baru berusia beberapa minggu, dengan mayoritas cedera berupa trauma tumpul dan patah tulang akibat reruntuhan.

Meski Lebanon tidak asing dengan gejolak, skala dan intensitas serangan ini dinilai sangat berbeda. "Ini adalah tantangan besar bagi kami, terutama di Beirut. Kami belum pernah kehilangan begitu banyak orang dalam satu hari. Intensitas ini belum pernah kami alami sebelumnya," tambahnya.

Ancaman Ganda: Krisis Ekonomi dan Kelangkaan

Konflik ini memperparah krisis ekonomi Lebanon yang telah berlangsung sejak 2019. Sektor kesehatan terkena dampak ganda: pembatasan impor membuat pasokan obat-obatan vital menipis, sementara lonjakan harga bahan bakar global membebani operasional generator listrik yang menjadi andalan rumah sakit.

Dr. Alain Kortbaoui, Kepala Departemen Pengobatan Darurat di Rumah Sakit Geitawi, mengungkapkan keprihatinan yang mendalam. "Kami tidak lagi memiliki impor obat-obatan. Kami tidak pernah tahu kapan kami bisa menyembuhkan pasien yang ada," tuturnya. Peringatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa stok paket medis trauma penyelamat nyawa bisa habis dalam hitungan hari.

Sebuah "Mimpi Buruk" Tanpa Aturan

Di Rumah Sakit Hotel-Dieu de France, Dr. Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menggambarkan situasi dengan kata-kata yang keras. Menurutnya, serangan yang terjadi tanpa peringatan ini dirancang untuk memaksimalkan kerusakan dan penderitaan warga sipil.

"Mereka menyerang banyak wilayah pada saat yang sama, dan mereka menyerang dengan keras—untuk menimbulkan bahaya, untuk menimbulkan rasa sakit. Ini adalah perang tanpa aturan. Ini adalah perang tanpa batas," tegas Dr. Zoghbi.

Meski solidaritas masyarakat dalam bentuk donor darah sangat tinggi, para ahli di lapangan sepakat bahwa upaya lokal saja tidak akan cukup jika eskalasi terus berlanjut. Di tengah semua kompleksitas ini, seruan Dr. Zeineldine terdengar lugas dan mendesak: "Hentikan perang." Itulah, menurutnya, satu-satunya solusi untuk menyelamatkan sistem kesehatan Lebanon yang sedang sekarat.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar