Aptrindo Soroti Peluang Truk Listrik untuk Peremajaan Armada Tua di Pelabuhan

- Sabtu, 11 April 2026 | 05:25 WIB
Aptrindo Soroti Peluang Truk Listrik untuk Peremajaan Armada Tua di Pelabuhan

PARADAPOS.COM - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai truk listrik sebagai instrumen kunci untuk memodernisasi armada angkutan barang nasional yang didominasi kendaraan berusia tua. Dalam pernyataan yang dikeluarkan Sabtu (11/4/2026), asosiasi menyoroti potensi kendaraan niaga ramah lingkungan ini sebagai solusi rasional menuju logistik hijau, terutama di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang membebani biaya operasional.

Peluang Besar di Balik Usia Armada yang Tua

Sektor logistik, yang menjadi tulang punggung perekonomian, saat ini menghadapi tantangan efisiensi yang serius. Data menunjukkan dari total populasi truk nasional yang mencapai 6,4 juta unit, mayoritas masih mengandalkan mesin berbahan bakar fosil. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 21% armada yang berusia di bawah lima tahun. Sebaliknya, sebanyak 65% truk telah beroperasi lebih dari dua dekade.

Kesenjangan usia ini justru membuka peluang besar bagi penetrasi truk listrik. Karakteristiknya yang bebas emisi lokal dinilai sangat ideal untuk operasi di kawasan dengan mobilitas terbatas dan polusi tinggi, seperti area pelabuhan.

Pelabuhan: Pintu Masuk Strategis untuk Peremajaan

Peluang itu terlihat sangat nyata di lingkungan pelabuhan. Rata-rata umur kendaraan yang beroperasi di sana bahkan mencapai 30 hingga 40 tahun. Mengganti armada tua yang boros dengan truk listrik tidak hanya berdampak pada penurunan polusi udara, tetapi juga berpotensi memangkas biaya perawatan jangka panjang karena sistem penggerak listrik memiliki komponen bergerak yang lebih sederhana.

Ketua Umum Aptrindo, Gemilang Tarigan, menegaskan kondisi ini.

"Populasi umur truk di pelabuhan berada pada angka 30–40 tahun. Kondisi ini membuka peluang penggunaan truk listrik sebagai solusi peremajaan armada," jelasnya.

Harga Masih Jadi Ganjalan Utama

Meski menjanjikan efisiensi operasional, adopsi truk listrik masih terbentur pada kendala harga pembelian awal. Secara rata-rata, satu unit truk listrik dibanderol 2,5 kali lebih mahal daripada truk diesel konvensional. Selisih harga yang signifikan ini memerlukan investasi modal yang tidak kecil dari para pengusaha angkutan.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, merinci bahwa belanja modal yang dibutuhkan bisa berkisar antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar per unit. Angka ini menjadi jurang pemisah yang lebar dibandingkan harga truk diesel, meski biaya operasional bahan bakarnya terus naik.

Tantangan Infrastruktur dan SDM

Selain harga, dua tantangan lain yang mengemuka adalah infrastruktur penunjang dan kesiapan sumber daya manusia. Berbeda dengan pengisian bahan bakar yang cepat dan mudah dijumpai, truk listrik memerlukan stasiun pengisian daya berkapasitas besar dengan waktu charging yang lebih lama. Di sisi lain, mayoritas sopir truk saat ini dinilai belum sepenuhnya memahami teknis operasi dan perawatan kendaraan elektrik, yang memicu kekhawatiran tentang jarak tempuh dan ketersediaan charging station di berbagai rute logistik.

Dukungan Pemerintah dan Industri Dalam Negeri

Pemerintah Indonesia berupaya mendorong percepatan transisi ini dengan memperkuat basis produksi dalam negeri. Hal ini sejalan dengan peluang pasar yang dinilai meningkat, terutama saat ketidakstabilan geopolitik mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya industrialisasi dan penguasaan teknologi nasional dalam agenda transisi energi. Pernyataan ini disampaikannya saat meresmikan pabrik truk dan bus listrik milik PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. di Magelang, Jawa Tengah.

"Saya sangat bangga, Indonesia mampu memproduksi bus dan truk listrik. Saya dapat laporan kemampuan Vektor bisa produksi 10.000 bus listrik yang TKDN-nya sudah 40%, mungkin dua tahun lagi akan menuju 60%, dan 80% dua tahun setelahnya," ungkap Prabowo pada Kamis (9/4/2026).

Peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tersebut diharapkan dapat menekan harga jual ke depannya. Dengan harga yang semakin kompetitif dan dukungan regulasi yang kuat, transisi menuju armada yang lebih modern dan ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi realitas bisnis yang menguntungkan bagi seluruh pelaku usaha logistik.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar