15 Ribu Ton Beras dari Tiongkok Tiba di Kuba di Tengah Krisis Ekonomi dan Bahan Bakar

- Senin, 25 Mei 2026 | 19:50 WIB
15 Ribu Ton Beras dari Tiongkok Tiba di Kuba di Tengah Krisis Ekonomi dan Bahan Bakar
PARADAPOS.COM - Sebanyak 15 ribu ton beras dari Tiongkok telah tiba di Pelabuhan Havana, Kuba, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Bantuan ini merupakan tahap pertama dari total paket bantuan pangan sebesar 60 ribu ton yang dijanjikan Beijing. Pengiriman dilakukan di tengah tekanan ekonomi akut dan krisis bahan bakar yang melanda negara Karibia tersebut, termasuk pemadaman listrik berkepanjangan. Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel Bermudez, secara langsung mengonfirmasi penerimaan bantuan ini dan menyoroti eratnya hubungan bilateral kedua negara.

Solidaritas Pangan untuk Sektor Vital

Dalam pernyataan resminya, Diaz-Canel menyambut hangat kedatangan bantuan tersebut. Ia menekankan bahwa pasokan beras ini akan sangat berarti bagi masyarakat Kuba. "Solidaritas 'mulia' dari Tiongkok akan membantu jutaan konsumen di seluruh Kuba, termasuk sektor kesehatan dan pendidikan," tulis Diaz-Canel dalam unggahannya di platform media sosial X, Senin, 25 Mei 2026. Pemerintah Kuba mencatat bahwa pengiriman ini adalah langkah awal. Sisa bantuan sebesar 45 ribu ton beras dijadwalkan akan dikirim secara bertahap dalam waktu dekat untuk memastikan pasokan pangan nasional tetap terjaga.

Janji Dukungan Berkelanjutan dari Beijing

Duta Besar Tiongkok untuk Kuba, Hua Xin, hadir langsung dalam seremoni serah terima di pelabuhan. Ia menegaskan bahwa program bantuan pangan darurat ini merupakan bagian integral dari komitmen Beijing terhadap Havana. Hua menyebut bantuan tersebut sebagai cerminan kerja sama nyata di tengah situasi internasional yang semakin kompleks. Ia juga menambahkan bahwa Tiongkok akan terus memperkuat kerja sama praktis dengan Kuba dan berdiri teguh mendukung kedaulatan serta martabat nasional negara tersebut. Sikap ini sejalan dengan kritik berulang Beijing terhadap tekanan ekonomi yang dihadapi Kuba. Tiongkok secara konsisten menentang sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan menyerukan pencabutan segera segala bentuk pembatasan terhadap negara pulau itu.

Krisis Berlapis di Tengah Tekanan Eksternal

Situasi di Kuba kian memburuk setelah embargo minyak dari Amerika Serikat mulai berlaku pada 30 Januari lalu. Kebijakan tersebut memicu krisis bahan bakar yang parah, yang kemudian berujung pada kekurangan listrik dan pemadaman bergilir di berbagai wilayah. Di tengah kondisi ini, Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyebut Kuba sebagai target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran. Ia bahkan mengklaim bahwa negara tersebut akan segera runtuh di bawah tekanan yang ada. Pernyataan-pernyataan itu semakin mempertegas ketegangan diplomatik yang sudah berlangsung lama.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar