Harga Emas Melonjak 1,4 Persen di Tengah Harapan Damai AS-Iran dan Pelemahan Dolar

- Selasa, 26 Mei 2026 | 02:50 WIB
Harga Emas Melonjak 1,4 Persen di Tengah Harapan Damai AS-Iran dan Pelemahan Dolar
PARADAPOS.COM - Harga emas dunia mencatat kenaikan pada perdagangan Senin, 26 Mei 2026, di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang justru mendorong harga minyak turun. Emas spot melonjak 1,4 persen ke level USD4.573,31 per troy ons, sementara emas berjangka naik 1,1 persen menjadi USD4.606,97 per troy ons. Namun, kenaikan ini tertahan oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan sebagai upaya melawan inflasi dari sektor energi.

Kenaikan Emas dan Perak di Tengah Ketidakpastian Moneter

Pergerakan harga logam mulia pada awal pekan ini menunjukkan dinamika yang menarik. Selain emas, harga perak spot juga ikut melesat hingga 3,3 persen, ditutup pada posisi USD78,03 per troy ons. Para pelaku pasar tampaknya masih mencermati sinyal dari bank sentral global terkait arah kebijakan moneter ke depan. Kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh sektor energi membuat banyak investor berspekulasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya menjadi tekanan tersendiri bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Harapan Damai AS-Iran Mengguncang Pasar Minyak

Kabar mengenai potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis utama pergerakan pasar energi. Iran dan AS dilaporkan telah mencapai kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. "Nota kesepahaman potensial tersebut tidak mencakup rincian spesifik tentang pengelolaan Selat Hormuz," demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada media. Meskipun ada kemajuan, kesepakatan final antara Teheran dan Washington belum bisa dipastikan akan segera terwujud. Seorang pejabat senior Gedung Putih sebelumnya menyatakan bahwa kerangka kerja telah tercapai, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur air strategis di lepas pantai selatan Iran ini merupakan lintasan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Selat tersebut nyaris lumpuh total selama berminggu-minggu akibat konflik. Kelumpuhan ini sebelumnya mendorong harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi global. Sebagai imbalan atas pembukaan selat, AS dilaporkan akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Menariknya, Teheran menegaskan tidak akan memungut biaya tol dari kapal-kapal yang melintas. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menambahkan bahwa layanan apa pun yang diberikan akan tetap memiliki harga, meskipun tidak boleh disebut sebagai biaya tol. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyatakan telah meminta perwakilannya untuk tidak terburu-buru. "Blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani," tegasnya.

Harga Minyak Ambruk, Dolar Melemah

Dampak dari perkembangan diplomatik ini langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan global, ambles 4,9 persen ke level USD95,35 per barel. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dari puncak terbaru yang sempat menembus USD100 per barel. Meskipun turun, harga Brent saat ini masih sekitar USD20 lebih mahal dibandingkan sebelum konflik pecah. Para analis memperingatkan bahwa pemulihan aliran minyak mungkin membutuhkan waktu lama, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya. Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama lainnya terpantau sedikit melemah pada hari Senin. Pelemahan dolar ini sempat memberikan sedikit ruang bagi emas untuk bernapas, karena logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli internasional. Namun, sentimen hati-hati masih menyelimuti pasar. Banyak investor masih memandang dolar AS sebagai aset safe haven, terutama karena Amerika Serikat sebagai pengekspor energi utama dianggap lebih mampu bertahan dari guncangan harga minyak akibat perang. Jika dolar kembali menguat, daya tarik emas bisa kembali tertekan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar