BI Peringatkan Ketegangan AS-Iran-Israel Berpotensi Guncang Pasar Keuangan Global

- Senin, 13 April 2026 | 07:50 WIB
BI Peringatkan Ketegangan AS-Iran-Israel Berpotensi Guncang Pasar Keuangan Global

PARADAPOS.COM - Senior Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berpotensi menimbulkan guncangan signifikan pada pasar keuangan global. Meski dampak langsungnya terbatas, posisi AS sebagai pusat keuangan dunia dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dinilai akan memicu gelombang sentimen negatif yang luas, menggerakkan aliran modal dan menekan nilai tukar mata uang di berbagai negara.

Dampak Tidak Langsung yang Lebih Berisiko

Dalam paparannya di Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Destry menjelaskan bahwa inti masalahnya terletak pada dampak tidak langsung dari konflik tersebut. Ia menekankan bahwa meskipun Iran dan Israel bukan pusat keuangan global, keterlibatan Amerika Serikatlah yang menjadi faktor penguat utama.

“Kalau direct impact (dampak langsung), Iran dan Israel ini sebenarnya bukan financial hub secara global. Jadi kontribusi mereka dalam financial sector yang tidak terlalu besar, dan reaksi pasar di middle east juga relatif terbatas, tapi indirect impact-nya (dampak tidak langsung) itu akan sangat besar,” jelasnya, seperti dikutip dari Antara, Senin (13/4/2026).

Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh posisi strategis Iran, menurut analisisnya, dengan cepat berubah menjadi faktor risiko sistemik. Sentimen ini tidak lagi terkurung di wilayah konflik, melainkan menyebar ke seluruh pasar keuangan dunia, mendorong investor untuk bersikap lebih berhati-hati.

Pergeseran ke Aset Aman dan Dampaknya

Respons pasar terhadap ketegangan geopolitik ini adalah perilaku risk-off yang nyata. Investor global secara masif mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan berlomba mencari tempat yang lebih aman (safe haven).

Pergeseran ini terlihat jelas dari mengalirnya kembali modal ke negara-negara maju, yang ditandai dengan penguatan nilai Dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) hingga ke level 4,5-4,6 persen. Sebaliknya, arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan.

“Jadi artinya ini ada risiko yang menyebabkan adanya ketidakpastian global, sehingga DXY-nya naik, yield UST juga naik, aliran modalnya emerging markets yang turun, tekanan terhadap nilai tukar berbagai mata uang itu juga meningkat,” ungkap Destry lebih lanjut.

Kondisi Pasar Domestik di Tengah Turbulensi

Meski menghadapi arus keluar modal bersih sekitar Rp21 triliun secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan parsial. Destry mencatat adanya aliran masuk modal yang mulai terlihat di beberapa instrumen domestik, seperti Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Fenomena ini mengindikasikan bahwa meski terdampak oleh arus global, fundamental ekonomi dalam negeri masih mampu menarik minat investor tertentu. Namun, otoritas tetap perlu waspada terhadap dinamika eksternal yang cepat berubah dan potensi tekanan berkelanjutan pada nilai tukar Rupiah jika ketegangan geopolitik terus bereskalasi.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar