PARADAPOS.COM - Lalu lintas kapal di Selat Hormuz terhenti pada Senin, 13 April 2026, menyusul pengumuman blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Insiden ini memicu seruan segera dari para pemimpin dunia agar Washington dan Teheran menahan diri, demi mencegah eskalasi yang mengancam keamanan energi dan stabilitas kawasan strategis tersebut.
Respons Iran: Ancaman Balasan dan Klaim Kendali
Pihak militer Iran merespons keras langkah AS itu. Mereka mengecam pembatasan terhadap kapal di perairan internasional sebagai tindakan yang disamakan dengan perompakan. Lebih jauh, Teheran mengisyaratkan akan membentuk mekanisme permanen untuk mengendalikan selat tersebut.
Pejabat Iran juga menyampaikan peringatan yang tegas. "Jika pelabuhan kami terancam, maka tidak ada pelabuhan di kawasan Teluk maupun Laut Oman yang akan aman dari serangan," ungkapnya.
Seruan Global untuk Menjaga Jalur Pelayaran
Reaksi internasional berdatangan dengan nada yang hampir seragam: mendesak de-eskalasi. Turki, melalui Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, mendukung pembukaan kembali selat secara damai dan memperingatkan bahwa intervensi militer akan menghadapi tantangan berat.
Di Beijing, pemerintah Tiongkok menekankan kepentingan global di balik stabilitas kawasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menegaskan, "Menjaga jalur perairan penting ini tetap aman, stabil, dan tidak terhambat merupakan kepentingan bersama komunitas internasional."
Ia menambahkan bahwa negaranya siap berkolaborasi dengan semua pihak untuk menjaga keamanan pasokan energi global.
Kekhawatiran Eropa atas Dampak Ekonomi dan Keamanan
Di Eropa, kekhawatiran terfokus pada risiko eskalasi dan guncangan ekonomi. Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, secara terbuka menyebut blokade AS itu "tidak masuk akal" dan memperparah ketegangan.
"Ini adalah satu lagi episode dalam spiral penurunan yang telah menyeret kita," tuturnya, menggambarkan situasi yang kian tidak stabil.
Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan negaranya tidak akan mendukung blokade dan berupaya menghindari keterlibatan konflik. "Menurut saya, sangat penting agar Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya, dan itulah fokus upaya kami dalam beberapa waktu terakhir, dan akan terus kami lakukan," jelasnya.
Peringatan tentang dampak jangka panjang datang dari Kanselir Jerman, Friedrich Merz. Ia khawatir ekonomi yang sudah tertekan akan semakin terpukul oleh guncangan energi. "Kita akan terus merasakan konsekuensi dari perang ini untuk waktu yang lama, bahkan setelah konflik berakhir," lanjutnya, sembari mengumumkan langkah bantuan seperti pemotongan pajak bahan bakar.
ASEAN Dorong Penyelesaian Diplomatik
Blok regional Asia Tenggara juga menyuarakan keprihatinan. ASEAN mendesak pemulihan jalur pelayaran yang aman dan lancar di Selat Hormuz, serta menjamin keselamatan awak kapal. Mereka mendorong Washington dan Teheran untuk kembali ke meja perundingan guna mencari penyelesaian permanen dan menjaga stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Manchester United Tumbang di Old Trafford, Leeds Menang 2-1 Meski MU 10 Pemain
Gempa Magnitudo 3,3 Guncang Bitung Dini Hari, Kedalaman Hanya 3 Kilometer
Anggota DPRD DKI Apresiasi Penangkapan Pemalak Bajaj, Desak Pencegahan Sistemik
AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan Nuklir dengan Iran Buntu