PARADAPOS.COM - Pembatasan kapasitas Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang mendorong Kelurahan Kota Bambu Utara (KBU) untuk lebih siap menghadapi krisis sampah Jakarta. Melalui konsistensi pengelolaan bank sampah yang telah berjalan sejak 2018, kelurahan ini berhasil membangun sistem pemilahan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi warganya. Langkah proaktif ini membuat KBU tidak mengalami kegagapan saat Bantargebang mulai membatasi jenis sampah yang diterima.
Bank Sampah yang Sudah Lama Berdiri
Saifuddin, petugas Kelurahan Kota Bambu Utara, menuturkan bahwa inisiatif ini sudah dirintis jauh sebelum kebijakan pembatasan dari pemerintah provinsi diterapkan. “Kita emang dari dulu, sebelum Bantargebang ada masalah, bank sampah itu sudah berdiri sejak lama,” ujarnya kepada awak media, Sabtu 9 Mei 2026.
Menurutnya, sikap antisipatif ini menjadi kunci utama. Selama lebih dari lima tahun, warga dan petugas di KBU telah terbiasa memilah sampah dari rumah tangga. Alhasil, ketika aturan ketat dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai diberlakukan, kelurahan ini tidak panik.
Pelatihan Internal Sebagai Langkah Awal
Pihak kelurahan mengaku telah memiliki sistem yang matang. Para petugas dan kader terlebih dahulu dilatih melakukan pemilahan sampah sebelum akhirnya mengedukasi warga. Saifuddin menekankan bahwa perubahan pola pikir harus dimulai dari internal instansi.
“PPSU juga sama Pak Lurah kita diharapkan jadi pelopor,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan dari dalam ke luar ini dinilai lebih efektif. Dengan memberikan contoh nyata, aparat kelurahan berharap masyarakat lebih mudah diajak berpartisipasi.
Peran Kader di Lapangan
Di tingkat RW, kader bank sampah menjadi ujung tombak edukasi. Vita, ketua bank sampah RW 2 KBU, menceritakan pengalamannya saat mensosialisasikan program ini. “Saya dan tim sudah demo untuk kasih tahu warga, tinggal dua pilihan aja bu, mau diangkut atau tidak sampahnya,” ungkapnya kepada media, Sabtu 9 Mei 2026.
Para kader secara rutin mengadakan sosialisasi dan kegiatan penimbangan di bank sampah. Mereka berusaha mengajak warga untuk aktif berpartisipasi. Namun, Vita mengakui bahwa tidak semua warga langsung berubah.
“Biar kita sudah bolak-balik kalau dianya tidak peduli, tidak empati, ya susah,” tuturnya.
Meskipun demikian, kegigihan para kader tidak pernah surut. Mereka terus berupaya memutus rantai kebiasaan membuang sampah sembarangan, satu per satu, dari rumah ke rumah.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Tembus Peringkat 14 Dunia, Cetak Sejarah Baru Usai Jadi Runner-Up Piala Asia
Pegadaian Luncurkan GadePreneur 2026, Bina 30 UMKM Jakarta agar Naik Kelas
Presiden Prabowo Ajak Petinggi TNI Bernyanyi dan Berjoget Bersama Warga di Pulau Miangas
Kerusuhan Suporter Warnai Kegagalan Persipura Promosi ke Liga 1 Usai Dikalahkan Adhyaksa FC