Program Makan Bergizi Gratis Mulai Putar Roda Ekonomi UMKM dan Petani Lokal

- Jumat, 08 Mei 2026 | 14:25 WIB
Program Makan Bergizi Gratis Mulai Putar Roda Ekonomi UMKM dan Petani Lokal
PARADAPOS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian di tingkat akar rumput. Dengan infrastruktur yang hampir rampung, program ini menjadi tumpuan baru bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pertanian daerah. Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, menilai MBG memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi rakyat, asalkan dibarengi dengan strategi tata kelola yang adaptif dan efisien.

Progres Infrastruktur dan Dampak Awal

Riandy mengungkapkan progres pembangunan Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) atau dapur MBG telah mencapai 90 persen. Dari target 30 ribu unit, sebanyak 27 ribu dapur telah siap beroperasi. Menurut dia, ini menjadi kabar baik bagi penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah. “Dapurnya sudah terbangun dan ekonomi rakyat mulai bergulir. MBG ini sangat atraktif dalam membantu sektor pertanian dan perdagangan di pasar-pasar tradisional. Ini adalah akselerasi fiskal yang memberikan dampak langsung pada pelaku ekonomi di bawah,” ujar Riandy dalam keterangannya, Jumat, 8 Mei 2026. Salah satu contoh nyata terlihat di dapur MBG dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran dapur ini menghidupkan kembali rantai ekonomi lokal. Lapangan kerja baru tercipta bagi masyarakat setempat, terutama ibu rumah tangga, sementara petani lokal mulai merasakan manfaat dari permintaan bahan baku yang stabil.

Pemberdayaan UMKM dan Petani Lokal

Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan dapur MBG miliknya melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah, mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA). Dia menjelaskan, kebutuhan bahan baku yang besar ini dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. “Jadi, memang kami memberdayakan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di sekitar SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat,” kata Edwin. SPPG Kadiwano membutuhkan puluhan hingga ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi setiap minggunya. Untuk menjaga stabilitas stok dan mencegah penumpukan hasil panen, jadwal suplai diatur secara berkala. “Ada yang tanam wortel, ada yang tanam sawi, terus ada yang fokus pisang. Supaya jangan menumpuk. Karena kalau menumpuk kewalahan juga,” jelas dia.

Dampak Sosial bagi Ibu Rumah Tangga

Keberadaan dapur MBG juga menjadi berkah tersendiri bagi ibu rumah tangga (IRT) di sekitar SPPG. Mereka diberdayakan untuk bekerja sebagai tenaga masak di dapur-dapur tersebut. Suasana dapur yang sibuk dengan aktivitas memasak dan menyiapkan makanan menjadi pemandangan sehari-hari. “Rata-rata yang kerja di kami itu adalah ibu rumah tangga yang selama ini tidak mendapatkan peluang bekerja,” kata Edwin.

Menjaga Keseimbangan Fiskal dan Kualitas

Untuk memastikan program ini berjalan beriringan dengan stabilitas keuangan (fiskal) nasional, Riandy mengusulkan langkah penyesuaian yang cerdas. Alih-alih mengurangi jangkauan wilayah atau menyasar hanya anak dari keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah, dia menyarankan penyesuaian frekuensi pemberian makan sebagai solusi untuk menjaga kredibilitas anggaran. "Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit (Indonesia) terjaga, pemerintah bisa mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu. Langkah ini jauh lebih aman daripada mengubah total struktur program yang sudah berjalan, sehingga manfaat ekonomi bagi pekerja dapur dan penyedia bahan pangan tetap terjaga," jelas dia. Selain efisiensi anggaran, Riandy menekankan pentingnya menjaga kualitas nutrisi sebagai investasi sumber daya manusia jangka panjang. Dia mendorong pemerintah untuk memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan guna memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar sampai dalam bentuk asupan bergizi bagi siswa. "Pemerintah perlu memperkuat pola random check atau sidak lapangan untuk memastikan standar kualitas tetap terjaga. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dapur akan menjadi kunci keberhasilan MBG ke depannya," ujar dia.

Harapan dan Realitas Ekonomi

Meski dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja baru akan terasa di masa depan, MBG dianggap sebagai langkah awal yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. Riandy meyakini jika dikelola dengan manajemen yang tepat, MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. "Tapi lagi-lagi, jangan diharapkan MBG ini bisa kemudian memutar roda perekonomian sampai 8%, akan sulit dibayangkan, karena untuk menggerakkan ekonomi, butuh mesin-mesin ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan sektor pertanian, jadi perlu ada sektor-sektor yang lain yang perlu digenjot. Jadi jangan mengandalkan MBG sendirian untuk strategi pertumbuhan, sehingga kita jor-joran ke pertanian," pungkas Riandy.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar