PARADAPOS.COM - Washington melaporkan pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat pada April 2026 melampaui ekspektasi pasar, sementara tingkat pengangguran tetap bertahan di angka 4,3 persen. Data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada Jumat, 8 Mei 2026, menunjukkan jumlah pekerjaan non-pertanian bertambah 115 ribu—jauh di atas perkiraan konsensus yang hanya 65 ribu. Angka ini muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi akibat konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak global.
Revisi Data dan Sektor Pendongkrak
Peningkatan lapangan kerja pada bulan April terutama ditopang oleh tiga sektor utama. Sektor perawatan kesehatan menambah 37 ribu pekerjaan, sedikit di atas rata-rata bulanan 32 ribu dalam setahun terakhir. Sektor transportasi dan pergudangan menyusul dengan tambahan 30 ribu pekerjaan, sementara perdagangan ritel menyerap 22 ribu tenaga kerja baru. Di sisi lain, lapangan kerja pemerintah federal justru mengalami penurunan sebesar 9 ribu posisi.
BLS juga merevisi angka bulan-bulan sebelumnya. Total penggajian non-pertanian untuk Februari direvisi turun dari 156 ribu menjadi 133 ribu, sementara angka Maret direvisi naik dari 178 ribu menjadi 185 ribu. Artinya, dalam tiga bulan terakhir, rata-rata penciptaan lapangan kerja mencapai 48 ribu per bulan.
“Laporan lapangan kerja yang menggembirakan,” ujar Justin Wolfers, profesor kebijakan publik dan ekonomi di Universitas Michigan, melalui akun X miliknya.
“Revisi sedikit negatif: Februari direvisi turun -23 ribu, dan Maret direvisi naik 7 ribu. Selama 3 bulan terakhir kita menciptakan 48 ribu lapangan kerja per bulan, yang mungkin cukup baik,” lanjut Wolfers.
Kekhawatiran Inflasi Lebih Mendominasi
Meski data ketenagakerjaan menunjukkan pasar yang solid, perhatian pelaku pasar justru lebih tertuju pada harga minyak yang meroket sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Lonjakan ini memicu kenaikan inflasi utama di berbagai negara.
“Sekarang kami merasa bahwa pasar tenaga kerja sama sekali bukan sumber inflasi, jadi kami tidak perlu khawatir tentang itu. Sudah lama sekali sejak kami harus mengkhawatirkan hal itu,” jelas Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam pertemuan keputusan suku bunga bank sentral akhir April lalu.
“Pasar tenaga kerja menunjukkan semakin banyak tanda-tanda stabilitas, sedangkan inflasi agak tidak terkendali,” tambah Powell. Ia menegaskan bahwa Fed berada dalam posisi yang nyaman untuk mengambil sikap wait and see terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga minyak.
Sebelum laporan pekerjaan April dirilis, para pedagang memperkirakan ada kemungkinan kecil Fed akan menaikkan suku bunga tahun ini guna mengantisipasi guncangan inflasi akibat perang. Namun, setelah data BLS keluar, probabilitas kenaikan suku bunga tersebut mereda, menurut alat pemantau CME FedWatch.
Perlambatan Kenaikan Upah
Data April juga mengungkapkan sisi lain yang kurang menggembirakan: pertumbuhan upah mulai melambat akibat inflasi. BLS mencatat rata-rata upah per jam untuk seluruh karyawan di sektor swasta non-pertanian naik 3,6 persen secara tahunan pada bulan April.
“Inflasi menghapus kenaikan upah. Ini adalah titik lemah utama dalam perekonomian AS,” ungkap Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal, melalui akun X. Ia memperkirakan inflasi bulan April berada di sekitar empat persen.
“Upah terkikis oleh inflasi akibat perang di Iran. Ini merupakan perubahan besar dari beberapa tahun terakhir ketika upah tumbuh jauh di atas inflasi. Ya, para pekerja memiliki pekerjaan, tetapi ini adalah tekanan,” sambung Long.
Secara bulanan, rata-rata upah per jam hanya naik 0,2 persen, lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebesar 0,3 persen. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal perlambatan daya beli masyarakat.
“Pertumbuhan bersih di sektor pekerjaan bergaji tinggi negatif pada bulan April. Dan Anda dapat melihat ini dari fakta bahwa upah per jam hanya naik 0,16 persen secara agregat bulanan meskipun inflasi sedang tinggi. Ketika kualitas pekerjaan yang ditawarkan menurun, tekanan negatif pada permintaan akan segera menyusul,” pungkas Dan Alpert, ketua eksekutif Westwood Capital, di akun X miliknya.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Resmikan Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo Usai KTT ASEAN
Kesehatan Mental Sama Krusialnya dengan Fisik, Pakai Waspadai Gejala Seperti Perubahan Suasana Hati Hingga Gangguan Tidur
UEA Berhasil Cegat Rudal dan Drone dari Iran, Tiga Orang Terluka
Master Radiator Coolant Gold Dirancang untuk Jaga Suhu Ideal Mobil Hybrid dan Listrik di Tengah Krisis Energi