PARADAPOS.COM - Jakarta, 17 Mei 2026. Kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia masih menjadi tantangan serius, dengan temuan bahwa sekitar 80 persen jemaah memiliki penyakit penyerta dan 32 persen berusia di atas 60 tahun. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong perubahan paradigma, dari pemeriksaan kesehatan menjelang keberangkatan menjadi pembinaan terstruktur sejak dua tahun sebelumnya. Hal ini dinilai krusial mengingat data menunjukkan kelompok lansia memiliki risiko kematian hingga tujuh kali lebih tinggi, dan hingga hari ke-21 puncak haji tahun ini, 25 jemaah dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit jantung dan paru-paru yang diperparah cuaca ekstrem.
Pembinaan Kesehatan Jangka Panjang
Rustika, peneliti dari Pusat Riset Kesehatan BRIN, menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak bisa lagi dilakukan secara instan menjelang keberangkatan. Ia mengusulkan adanya sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Kami mendorong optimalisasi masa tunggu melalui pembinaan kesehatan terstruktur sejak dua tahun sebelum keberangkatan. Dengan demikian, kondisi kesehatan jemaah dapat dipantau dan dibina sejak jauh hari,” ujar Rustika dalam keterangan resminya, Minggu, 17 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia mendorong integrasi data kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan edukasi kesehatan bagi calon jemaah. Menurutnya, paradigma istitaah kesehatan perlu bergeser dari pendekatan administratif menuju pendekatan fungsional.
“Istitaah bukan sekadar tes medis satu kali, melainkan kemampuan jemaah menjalani perjalanan fisik di lingkungan ekstrem secara mandiri dan aman,” katanya.
Dominasi Jemaah Komorbid dan Lansia
Data yang diungkapkan Rustika cukup mencengangkan. Sekitar 80 persen jemaah haji memiliki penyakit komorbid, sementara 32 persen lainnya adalah kelompok lanjut usia di atas 60 tahun. Ironisnya, hanya sekitar 30,6 persen jemaah yang memiliki tingkat kebugaran baik.
“Kita mengetahui bahwa ibadah haji sangat menitikberatkan pada kondisi fisik. Dibutuhkan ketahanan kardiorespirasi, kekuatan otot, dan kebugaran yang prima karena aktivitas ibadah di sana sangat mengandalkan fisik,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga hari ke-21 pelaksanaan haji tahun ini, sekitar 25 jemaah dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya menjalani perawatan di rumah sakit. Mayoritas kematian disebabkan penyakit jantung dan gangguan paru-paru yang diperparah oleh cuaca panas serta aktivitas fisik berlebihan.
“Berdasarkan hasil riset BRIN selama tiga tahun, kelompok lansia memiliki risiko kematian hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan jemaah nonlansia yang sehat dan tanpa komorbid,” ungkapnya.
Antrean Panjang Memperbesar Risiko
Sementara itu, Abdul Jamil Wahab, peneliti dari Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, menyoroti dampak panjangnya antrean keberangkatan. Menurutnya, masa tunggu yang lama secara langsung meningkatkan usia jemaah saat berangkat, yang pada akhirnya memperbesar kerentanan biologis dan sosial.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini menjadi tantangan serius dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Berdasarkan data penelitiannya tahun 2023, sekitar 43,79 persen jemaah haji Indonesia masuk kategori lansia berusia di atas 60 tahun.
“Ketika usia semakin tua, maka kerentanan biologis dan sosial juga meningkat. Kerentanan ini berdampak pada meningkatnya risiko kesehatan dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji,” tuturnya.
Di lapangan, suhu panas yang menyengat dan aktivitas fisik yang padat menjadi ujian berat bagi para jemaah, terutama mereka yang sudah memiliki penyakit bawaan. Para peneliti berharap, rekomendasi ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara haji ke depannya.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Video Lawas BJ Habibie Viral: Kisah Mengubur Mimpi Pesawat Demi Selamatkan Rupiah di Tengah Krisis Rp16.000
Arus Balik Libur Kenaikan Yesus Kristus, 55 Ribu Kendaraan Padati Dua Gerbang Tol Menuju Jakarta
Kongres Fatah: Putra Mahmoud Abbas Masuk Komite Pusat, Marwan Barghouti Pimpin Perolehan Suara
BGN Buka Hotline SAGI 127 untuk Laporan Dugaan Penipuan Program Makan Bergizi Gratis