Bapanas: Harga Cabai dan Bawang Merah Fluktuatif, Petani di DIY Terpaksa Jual di Bawah HAP

- Kamis, 11 Juni 2026 | 21:50 WIB
Bapanas: Harga Cabai dan Bawang Merah Fluktuatif, Petani di DIY Terpaksa Jual di Bawah HAP
PARADAPOS.COM - Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu pertama Juni 2026 menunjukkan bahwa cabai dan bawang merah menjadi komoditas pangan hortikultura dengan fluktuasi harga paling tinggi di sejumlah daerah. Di tengah kondisi ini, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, justru mengingatkan publik untuk tidak melupakan nasib petani di lapangan. Pemerintah pun bergerak melakukan stabilisasi harga, terutama di daerah yang tengah memasuki masa panen raya.

Fluktuasi Harga dan Seruan untuk Petani

Meskipun harga cabai di tingkat konsumen terpantau tinggi di beberapa wilayah, Amran meminta semua pihak untuk melihat siklus usaha tani secara utuh. Ia menekankan bahwa petani kerap menghadapi situasi sebaliknya, di mana harga jual anjlok drastis. "Seperti cabai (agak tinggi) mungkin karena distribusi. Tapi ingat, cabai terkadang harganya Rp80.000 sampai Rp100.000 tapi terkadang juga harganya jatuh. Jadi mungkin berilah kesempatan ke petani cabai juga, supaya recovery, modalnya kembali," ujar Amran dalam sebuah telekonferensi di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Pernyataan ini muncul di tengah data BPS yang mencatat kenaikan IPH untuk cabai dan bawang merah di banyak daerah. Namun, di sisi hulu, realitasnya justru berbeda.

Panen Raya di DIY, Harga di Bawah HAP

Kondisi pahit tengah dialami petani cabai di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digelar Bapanas bersama Kementerian Pertanian dan berbagai asosiasi pada 10 Juni 2026, terungkap bahwa harga Cabai Merah Keriting (CMK) di tingkat petani DIY masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) melaporkan bahwa petani di DIY sedang memasuki panen raya CMK. Alhasil, harga yang mereka terima hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Padahal, pemerintah telah menetapkan HAP untuk CMK di tingkat petani pada rentang Rp22.000 sampai Rp29.600 per kg.

Strategi Pemerintah: Jangan Sampai Petani Rugi

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada harga di hilir, tetapi juga berupaya menjaga kewajaran harga di tingkat petani. "Dari informasi para teman-teman champion, petani cabai maupun bawang merah, tentu yang pertama adalah pasokan relatif stabil. Tidak banyak, tapi tidak terlalu kurang. Kita mengupayakan penstabilan harga. Artinya jangan terlalu murah, kita sepakat ke arah yang wajar, sehingga harga nyaman bagi petani," tutur Ketut. Ia menambahkan bahwa pemerintah memiliki kewajiban moral untuk membantu petani yang harga jualnya masih di bawah HAP. "Kalau yang di bawah HAP, kita harus bantu. Tentu kita harus dorong untuk mendekati HAP atau minimal di atas HAP sedikit lah, sehingga petani tidak dirugikan. Jadi jangan sampai kita minta harganya turun terus, ternyata produktivitas rendah. Kasihan petani kita. Jadi harus kita wajarkan," jelasnya.

Mobilisasi Stok ke Daerah dengan Harga Tinggi

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melakukan mobilisasi stok. Pemerintah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang harga cabainya masih melambung tinggi di atas HAP. Daerah-daerah ini menjadi target pengiriman pasokan dari wilayah yang sedang panen raya. "Papua, Papua Selatan, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, termasuk Maluku, kemudian Kepulauan Riau, Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Tenggara, itu masih di atas HAP. Tentu ini adalah potensi-potensi yang bisa kita dorong panen-panen cabai merah keriting ke wilayah-wilayah tersebut," ungkap Ketut.

Proyeksi Produksi dan Optimisme Penurunan Harga

Sementara untuk Cabai Rawit Merah (CRM), tantangan datang dari anomali cuaca dan serangan hama yang menekan produktivitas. Meski begitu, pemerintah optimistis harga akan berangsur turun seiring peningkatan produksi secara gradual. "Dengan kondisi sekarang, mudah-mudahan dengan informasi dari teman-teman champion yang terus berproduksi, mudah-mudahan ke depan, harga sudah mulai agak relatif menurun sedikit," ujar Ketut. Optimisme ini diperkuat oleh data Proyeksi Neraca Pangan. Produksi CRM secara nasional pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 113,8 ribu ton. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 144,7 ribu ton pada Juli mendatang. Deputi Bapanas Ketut juga memastikan kondisi pasokan di Pasar Induk Keramat Jati (PIKJ) masih dalam keadaan baik. Ia optimistis tren penurunan harga akan mulai terasa di bulan Juni ini. "Pasokan di PIKJ, baik bawang merah maupun cabai, semua cabai relatif masih bagus. Tentu harganya masih agak di atas HAP tapi mudah-mudahan dalam bulan Juni bisa mulai menurun," pungkasnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar