BMKG Catat 2.768 Gempa Susulan Guncang NTT, 70 Orang Tewas Akibat Gempa M 7,7

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 01:25 WIB
BMKG Catat 2.768 Gempa Susulan Guncang NTT, 70 Orang Tewas Akibat Gempa M 7,7

PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.768 kali gempa bumi susulan mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 05.00 WIB. Rentetan aktivitas seismik ini merupakan lanjutan dari gempa utama bermagnitudo (M) 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Dari seluruh gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar yang terekam mencapai 6,2, sementara yang terkecil berada di angka M 1,1. Dampak destruktif dari rangkaian gempa ini telah mengakibatkan 70 orang meninggal dunia dan melukai ratusan lainnya di enam kabupaten terdampak.

Catatan resmi yang dirilis BMKG melalui kanal komunikasi publiknya pada Rabu pagi menunjukkan bahwa dari ribuan kejadian susulan tersebut, sebanyak 24 kali gempa memiliki kekuatan di atas magnitudo 5,0. "Gempa susulan dirasakan 81 kali," tulis BMKG dalam keterangan resminya. Angka ini menggambarkan betapa intensifnya guncangan yang masih dialami oleh masyarakat di pesisir selatan Pulau Flores dan sekitarnya.

Dampak dan Sebaran Wilayah Terdampak

Di sisi lain, Pusat Data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melaporkan perkembangan situasi hingga Selasa malam, 18 Agustus 2026. Data tersebut mencatat bahwa bencana ini telah merenggut nyawa 70 orang. Selain itu, tercatat sebanyak 230 orang mengalami luka berat dan 308 orang lainnya menderita luka ringan akibat tertimpa material bangunan maupun terluka saat proses evakuasi darurat.

Para korban tersebar di enam kabupaten yang mengalami guncangan paling parah, yaitu Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Pada saat gempa utama terjadi, keenam wilayah tersebut dilaporkan merasakan getaran dengan intensitas maksimum mencapai VII hingga VIII MMI. Pada skala ini, kerusakan struktural pada bangunan permanen dan semi permanen hampir tidak dapat dihindari, terutama di daerah dengan kondisi tanah lunak.

Imbauan Resmi dan Kewaspadaan Publik

Menyikapi tingginya frekuensi gempa susulan yang masih berlangsung, BMKG mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat. Warga diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau hoaks kebencanaan yang sumbernya tidak jelas. Informasi semacam ini kerap muncul di tengah situasi darurat dan berpotensi memicu kepanikan yang tidak perlu.

"Masyarakat diimbau untuk selalu memperbarui informasi perkembangan data tektonik resmi melalui aplikasi dan kanal komunikasi terverifikasi milik BMKG," demikian bunyi pernyataan resmi yang disampaikan oleh pihak BMKG. Langkah ini dinilai krusial mengingat dinamika aktivitas seismik di kawasan NTT yang masih sangat fluktuatif. Tim pemantau di lapangan juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memastikan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi guncangan susulan berikutnya.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar