Trump Perintahkan Uji Coba Nuklir AS Kembali & Dukung Korsel Bangun Kapal Selam Nuklir

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 14:15 WIB
Trump Perintahkan Uji Coba Nuklir AS Kembali & Dukung Korsel Bangun Kapal Selam Nuklir

Trump Perintahkan Lanjutkan Uji Coba Senjata Nuklir AS dan Dukung Korsel Bangun Kapal Selam Nuklir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengeluarkan perintah kontroversial kepada Departemen Pertahanan AS untuk segera melanjutkan uji coba senjata nuklir. Keputusan ini diambil berdasarkan klaim Trump tentang perlunya menjaga kesetaraan dengan negara-negara bersenjata nuklir lainnya.

Dukungan AS untuk Kapal Selam Nuklir Korea Selatan

Dalam perkembangan terkait, Trump juga memberikan lampu hijau kepada sekutu AS, Korea Selatan, untuk membangun kapal selam bertenaga nuklirnya sendiri. Keputusan ini muncul setelah negosiasi perdagangan yang sukses dengan mitranya dari Korea Selatan, Lee Jae Myung.

Alasan Trump Lanjutkan Uji Coba Nuklir

Melalui platform Truth Social-nya, Trump menyatakan kekhawatirannya mengenai perkembangan senjata nuklir China. Meskipun AS saat ini memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain, Trump memprediksi China akan menyamai kemampuan nuklir AS dalam waktu 5 tahun.

"Saya telah menginstruksikan Departemen Perang [Departemen Pertahanan] untuk mulai menguji senjata nuklir kami secara setara. Proses itu akan segera dimulai," tegas Trump dalam pernyataannya.

Status Senjata Nuklir Global Terkini

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi (CACNP):

  • Rusia memiliki 5.459 hulu ledak nuklir dengan 1.600 di antaranya aktif
  • AS memiliki sekitar 5.550 hulu ledak nuklir dengan 3.800 di antaranya aktif
  • China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir

Sejarah Uji Coba Nuklir AS

AS terakhir kali meledakkan perangkat nuklir pada tahun 1992. Moratorium uji coba senjata nuklir pertama kali dikeluarkan oleh mantan Presiden George HW Bush setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Implikasi Kapal Selam Nuklir Korea Selatan

Dukungan AS untuk program kapal selam nuklir Korea Selatan akan menempatkan Seoul dalam kelompok elit negara yang memiliki teknologi ini, yang saat ini hanya mencakup AS, China, Rusia, Inggris, Prancis, dan India.

Kapal selam nuklir ini rencananya akan dibangun di Philadelphia, Pennsylvania, di mana perusahaan Korea Selatan, Hanwha, mengelola galangan kapal.

Revisi Perjanjian Energi Nuklir

Dalam pertemuan mereka, Lee Jae Myung mendesak Trump untuk merevisi perjanjian energi nuklir antara kedua negara. Revisi ini akan memberikan Seoul fleksibilitas lebih besar dalam pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas dan pengayaan uranium.

Lee menekankan bahwa pemerintahnya hanya mencari bahan bakar nuklir untuk keperluan damai, bukan senjata. "Jika pasokan bahan bakar diizinkan, kami dapat membangun beberapa kapal selam yang dilengkapi senjata konvensional menggunakan teknologi kami sendiri," jelas Lee.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar