Trump Perintahkan Lanjutkan Uji Coba Senjata Nuklir AS dan Dukung Korsel Bangun Kapal Selam Nuklir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengeluarkan perintah kontroversial kepada Departemen Pertahanan AS untuk segera melanjutkan uji coba senjata nuklir. Keputusan ini diambil berdasarkan klaim Trump tentang perlunya menjaga kesetaraan dengan negara-negara bersenjata nuklir lainnya.
Dukungan AS untuk Kapal Selam Nuklir Korea Selatan
Dalam perkembangan terkait, Trump juga memberikan lampu hijau kepada sekutu AS, Korea Selatan, untuk membangun kapal selam bertenaga nuklirnya sendiri. Keputusan ini muncul setelah negosiasi perdagangan yang sukses dengan mitranya dari Korea Selatan, Lee Jae Myung.
Alasan Trump Lanjutkan Uji Coba Nuklir
Melalui platform Truth Social-nya, Trump menyatakan kekhawatirannya mengenai perkembangan senjata nuklir China. Meskipun AS saat ini memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain, Trump memprediksi China akan menyamai kemampuan nuklir AS dalam waktu 5 tahun.
"Saya telah menginstruksikan Departemen Perang [Departemen Pertahanan] untuk mulai menguji senjata nuklir kami secara setara. Proses itu akan segera dimulai," tegas Trump dalam pernyataannya.
Status Senjata Nuklir Global Terkini
Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi (CACNP):
- Rusia memiliki 5.459 hulu ledak nuklir dengan 1.600 di antaranya aktif
- AS memiliki sekitar 5.550 hulu ledak nuklir dengan 3.800 di antaranya aktif
- China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir
Sejarah Uji Coba Nuklir AS
AS terakhir kali meledakkan perangkat nuklir pada tahun 1992. Moratorium uji coba senjata nuklir pertama kali dikeluarkan oleh mantan Presiden George HW Bush setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Implikasi Kapal Selam Nuklir Korea Selatan
Dukungan AS untuk program kapal selam nuklir Korea Selatan akan menempatkan Seoul dalam kelompok elit negara yang memiliki teknologi ini, yang saat ini hanya mencakup AS, China, Rusia, Inggris, Prancis, dan India.
Kapal selam nuklir ini rencananya akan dibangun di Philadelphia, Pennsylvania, di mana perusahaan Korea Selatan, Hanwha, mengelola galangan kapal.
Revisi Perjanjian Energi Nuklir
Dalam pertemuan mereka, Lee Jae Myung mendesak Trump untuk merevisi perjanjian energi nuklir antara kedua negara. Revisi ini akan memberikan Seoul fleksibilitas lebih besar dalam pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas dan pengayaan uranium.
Lee menekankan bahwa pemerintahnya hanya mencari bahan bakar nuklir untuk keperluan damai, bukan senjata. "Jika pasokan bahan bakar diizinkan, kami dapat membangun beberapa kapal selam yang dilengkapi senjata konvensional menggunakan teknologi kami sendiri," jelas Lee.
Artikel Terkait
Arus Mudik Lebaran Mulai Terasa di Tol Jakarta-Merak, Puncak Diprediksi 18 Maret
Serangan Israel Tewaskan 8 Polisi Gaza di Tengah Gencatan Senjata
Polres Pekalongan Kota Siagakan Personel 24 Jam di Jalur Pantura Jelang Puncak Mudik 2026
Rumah di Kuningan Barat Ludes Terbakar, Seluruh Penghuni Selamat