Dengan menggandeng Anies, Prabowo tidak hanya akan memperkuat legitimasinya, tetapi juga meminimalisir potensi oposisi yang keras di parlemen maupun di tengah masyarakat.
Analisis Syahganda juga menempatkan PDI Perjuangan (PDIP) dalam skema yang sama.
Ia bahkan menyebut masuknya PDIP ke dalam kabinet Prabowo adalah sebuah "keniscayaan yang wajar" menyusul berbagai sinyal positif yang telah terbangun.
Jika Anies dan PDIP benar-benar bergabung, maka kabinet Prabowo akan menjadi cerminan koalisi super besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, menggabungkan kekuatan pemenang pemilu dengan rival-rival utamanya.
Dilema Anies: Antara Idealisme Perubahan dan Pragmatisme Persatuan
Di sisi lain, desakan ini menempatkan Anies Baswedan dalam posisi yang dilematis.
Selama kampanye, Anies mengusung narasi "perubahan" yang kerap diposisikan sebagai antitesis dari keberlanjutan yang ditawarkan Prabowo.
Bergabung dengan kabinet berisiko dianggap sebagai langkah pragmatis yang mengkhianati kepercayaan para pendukungnya.
Namun, menolak tawaran atas nama persatuan juga bisa menjadi bumerang politik yang membuatnya dicap tidak negarawan.
Syahganda Nainggolan turut menyinggung urgensi pembentukan kabinet baru.
Ia merekomendasikan agar perombakan atau pengumuman kabinet dilakukan sebelum perubahan APBN pada bulan Agustus.
Hal ini dimaksudkan agar para menteri baru, termasuk jika Anies bergabung, dapat segera bekerja dan menyelaraskan program dengan anggaran yang tersedia, sehingga dampaknya bisa cepat dirasakan oleh masyarakat.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Copot Dahnil Anzar: Aktivis Muhammadiyah Protes Ucapan Kasar ke Anwar Abbas
PBNU Kecam Dahnil Anzar: Tanggapi Kritik Haji Anwar Abbas Dinilai Tak Beradab
Anies Baswedan Viral Ajak Foto Bareng Intel di Karanganyar, Respons Santainya Tuai Pujian