Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas

- Selasa, 03 Februari 2026 | 05:25 WIB
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Kronologi Polemik Kata Cangkem ke Buya Anwar Abbas
Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Polemik Kata "Cangkem" ke Buya Anwar Abbas - Analisis Lengkap

Desakan Pencopotan Dahnil Anzar: Polemik Kata "Cangkem" ke Buya Anwar Abbas

Polemik antara Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan tokoh senior PP Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, memicu sorotan publik. Muncul desakan keras dari aktivis Muhammadiyah agar Dahnil dicopot dari jabatannya akibat penggunaan kata yang dinilai kasar dan tidak pantas.

Kronologi Awal Kontroversi

Kontroversi ini berawal dari kritik Buya Anwar Abbas terkait pengelolaan layanan haji Indonesia, khususnya soal sistem katering dan penunjukan perusahaan penyedia layanan yang dinilai terlalu terbatas. Anwar Abbas mengingatkan pemerintah agar tidak menyerahkan pelayanan ratusan ribu jamaah haji hanya kepada dua perusahaan demi transparansi dan profesionalitas.

Tanggapan Dahnil yang Memicu Kemarahan

Menanggapi kritik tersebut, Dahnil Anzar Simanjuntak disebut-sebut melontarkan kata "cangkem" dalam merujuk pernyataan Buya Anwar. Ungkapan ini dianggap sebagai sindiran kasar dan tidak sopan terhadap sesepuh Muhammadiyah, sehingga memicu gelombang kecaman.

Desakan Resmi Pencopotan dari Aktivis Muhammadiyah

Aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris, secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan pencopotan Dahnil. Farid menegaskan bahwa pejabat publik tidak boleh menggunakan bahasa kasar untuk menjawab kritik, apalagi yang merendahkan marwah organisasi dan merusak citra pemerintah.

"Presiden Prabowo perlu mempertimbangkan pencopotan Dahnil dari posisi Wakil Menteri Haji dan Umrah," tegas Farid seperti dikutip media.

Dukungan dan Kritik dari Berbagai Pihak

Kritik terhadap Dahnil juga datang dari kalangan ulama. Mantan Wakil Sekjen MUI, Kiai Ikhsan, menilai pejabat publik seharusnya memilih diksi yang tidak menyakiti dan memberi harapan kepada masyarakat, serta meneladani sikap para ulama.

Di sisi lain, inti kritik Buya Anwar Abbas adalah kekhawatiran akan kegagalan sistemik jika penyedia layanan haji terlalu sedikit. Ia mendorong evaluasi menyeluruh untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan ibadah haji.

Analisis Dampak dan Sensitivitas Publik

Farid Idris menambahkan bahwa publik Muhammadiyah memiliki sensitivitas tinggi terhadap penggunaan jabatan publik untuk kepentingan personal atau politik. Pilihan kata Dahnil dinilai menunjukkan arogansi dan ketidakmatangan emosional dalam merespons kritik konstruktif.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dahnil Anzar Simanjuntak terkait tuntutan pencopotan dirinya. Polemik ini menyoroti dua hal penting: tata kelola haji yang transparan dan etika komunikasi pejabat negara dalam menghadapi kritik dari tokoh masyarakat.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar