Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan Menang Telak 97% di Pemilu 2025, Diwarnai Kecurangan dan 700 Korban Jiwa

- Sabtu, 01 November 2025 | 20:50 WIB
Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan Menang Telak 97% di Pemilu 2025, Diwarnai Kecurangan dan 700 Korban Jiwa

Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan Raih Kemenangan Telak di Pemilu 2025

Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan secara resmi dinyatakan memenangkan pemilu dengan perolehan suara yang sangat tinggi, lebih dari 97 persen. Pengumuman hasil pemungutan suara ini disampaikan langsung oleh Komisi Pemilihan Umum Tanzania. Hassan, yang naik menggantikan mendiang John Magufuli pada tahun 2021, akan kembali memimpin negara dengan populasi 68 juta jiwa ini untuk periode lima tahun ke depan.

Kemenangan telak semacam ini merupakan peristiwa langka di kawasan Afrika Timur. Satu-satunya perbandingan yang mendekati adalah Presiden Rwanda, Paul Kagame, yang juga rutin meraih suara mutlak dalam setiap pemilihan umum di negaranya.

Dugaan Kecurangan dan Aksi Demonstrasi Berdarah

Namun, kemenangan besar itu terjadi di tengah situasi politik yang memanas dan aksi demonstrasi berdarah yang dilaporkan menewaskan ratusan orang di berbagai wilayah Tanzania. Menjelang hari pemungutan suara, sejumlah kelompok HAM internasional, termasuk Amnesty International, melaporkan terjadinya pola pelanggaran HAM berat.

Pelanggaran yang dilaporkan mencakup penghilangan paksa, penangkapan sewenang-wenang, hingga pembunuhan di luar hukum. Partai oposisi utama, Chadema, menyatakan bahwa sekitar 700 orang tewas sejak demonstrasi pecah pada Rabu, 29 Oktober 2025.

"Jumlah kematian di Dar es Salaam sekitar 350 dan di Mwanza lebih dari 200. Jika digabungkan dengan wilayah lain, total korban jiwa diperkirakan mencapai 700 orang," ujar Juru Bicara Chadema, John Kitoka, seperti dikutip dari AFP pada Sabtu, 1 November 2025. Meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, sejumlah sumber keamanan dan diplomatik mengonfirmasi bahwa korban jiwa memang mencapai ratusan orang.

Tuduhan Kecurangan Pemilu dan Pembatasan oleh Pemerintah

Hassan dan partai penguasa, Chama Cha Mapinduzi (CCM), menghadapi tuduhan melakukan kecurangan sistematis untuk mempertahankan kekuasaan. Situasi ini diperparah dengan didiskualifikasinya dua calon presiden dari kubu oposisi, yang membuat Hassan hanya bersaing dengan 16 kandidat dari partai-partai kecil yang minim pengaruh dan kampanye.

Protes atas proses pemilu pun meluas ke berbagai kota besar, termasuk Dar es Salaam, dengan massa menuntut penyelenggaraan pemilu yang bebas dan adil. Aparat kepolisian dan militer dikerahkan untuk membubarkan aksi unjuk rasa tersebut.

Sebagai upaya meredam tekanan publik atas pemilu yang dianggap cacat demokrasi, pemerintah Tanzania juga dilaporkan menerapkan sejumlah kebijakan restriktif. Kebijakan ini termasuk pemberlakuan jam malam, pemblokiran akses internet, dan pembatasan terhadap media sosial.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar