PARADAPOS.COM - Rincian draf nota kesepahaman berisi 14 poin antara Iran dan Amerika Serikat bocor ke media pada Senin (15/6/2026), mengungkapkan usulan kerangka kerja untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Dokumen yang diterbitkan kantor berita semi-resmi Mehr itu mencakup penghentian permanen perang di semua front, pencabutan blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta periode negosiasi 60 hari yang membahas isu nuklir dan pencabutan sanksi. Kesepakatan ini dijadwalkan ditandatangani secara resmi pada Jumat (19/6/2026) di Jenewa, Swiss, setelah kedua pihak mengonfirmasi penyelesaiannya.
Garis Besar Penghentian Perang dan Jaminan AS
Draf tersebut menyerukan gencatan senjata permanen di seluruh medan pertempuran, termasuk di Lebanon. Lebih dari sekadar penghentian tembakan, dokumen itu juga memuat komitmen Washington untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran dan menghormati kedaulatan penuh Republik Islam.
Selama periode negosiasi, AS diwajibkan menarik pasukannya dari sekitar perbatasan Iran. Mereka juga harus menahan diri dari mengerahkan pasukan tambahan ke kawasan atau menjatuhkan sanksi baru. Ini menjadi fondasi awal untuk membangun kepercayaan di antara kedua negara yang telah lama berseteru.
Pembukaan Selat Hormuz dan Pencabutan Blokade
Salah satu poin paling krusial adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Menurut draf yang dilaporkan Mehr, blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan dicabut sepenuhnya dalam waktu 30 hari.
Selat Hormuz sendiri akan dibuka kembali dalam kurun waktu yang sama, dengan pengelolaan berada di bawah kendali Iran. Untuk memastikan kepatuhan kedua belah pihak, dokumen tersebut juga mencantumkan mekanisme pemantauan khusus yang akan mengawasi implementasi setiap pasal perjanjian.
Pencabutan Sanksi dan Pelepasan Aset Beku
Rancangan kesepakatan mengatur penangguhan sanksi atas penjualan produk-produk utama Iran, termasuk minyak mentah, produk petrokimia, dan turunannya. Teheran akan diberikan akses penuh ke sistem keuangannya untuk melakukan transaksi tersebut.
Dalam langkah yang lebih konkret, AS berjanji mencairkan aset luar negeri Iran yang membeku senilai 24 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp427 triliun. Proses pencairan ini akan berlangsung selama 60 hari masa negosiasi final. Menariknya, setengah dari jumlah tersebut, yakni 12 miliar dolar AS, harus sudah tersedia bagi Iran sebelum pembicaraan akhir dimulai.
Kesepakatan akhir nantinya juga akan mencakup pencabutan total sanksi primer dan sekunder AS. Selain itu, resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional yang terkait dengan Iran juga akan dihentikan.
Negosiasi Nuklir dan Batasan yang Jelas
Draf tersebut menetapkan waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan akhir yang berfokus pada dua isu besar: program nuklir dan pencabutan sanksi. Dalam kerangka ini, Iran akan menegaskan kembali komitmennya di bawah Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk tidak memproduksi senjata nuklir.
Mehr melaporkan bahwa negosiasi final hanya akan membahas nasib material yang telah diperkaya dan kegiatan pengayaan uranium. Isu pencabutan sanksi dan rencana rekonstruksi ekonomi Iran juga masuk dalam agenda. Namun, ada dua isu yang secara definitif dikecualikan dari meja perundingan: program rudal Iran dan dukungannya untuk kelompok perlawanan di kawasan.
Rencana Rekonstruksi dan Legitimasi Internasional
Draf tersebut juga mewajibkan AS dan sekutunya untuk menyusun rencana rekonstruksi bagi Iran dengan nilai fantastis, setidaknya 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.318 triliun. Untuk memberikan legitimasi penuh, kesepakatan akhir nantinya akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB.
Mehr menambahkan bahwa negosiasi final tidak akan dimulai sebelum tiga prasyarat terpenuhi: setengah dari aset beku Iran dilepaskan, sanksi terhadap ekspor minyak Iran ditangguhkan, dan blokade Angkatan Laut AS dicabut.
Konfirmasi dari Teheran dan Washington
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, pada Senin pagi mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman telah difinalisasi. "Penandatanganan MoU akan digelar di Jenewa, Swiss," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pencabutan blokade maritim akan mulai dilaksanakan pada Ahad malam waktu AS.
Gharibabadi menggambarkan MoU ini sebagai hasil diplomasi sekaligus pencapaian militer Iran selama konflik. "Musuh yang melancarkan serangan gagal di semua tujuan jahatnya, dan Republik Islam mencapai kemenangan besar dalam perang," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa Iran telah memasukkan semua posisi kuncinya ke dalam teks perjanjian. "Teks penuh dari MoU akan dipublikasikan setelah resmi ditandatangani," jelasnya. Sebelum acara penandatanganan, pejabat Iran akan menjelaskan berbagai dimensi dan pencapaian dari kesepakatan ini melalui publik figur.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga sudah angkat bicara. Melalui unggahan di Truth Social, ia mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Iran telah sepenuhnya tercapai. "Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang komplet," katanya.
Trump menambahkan bahwa ia telah mengautorisasi "pembukaan Selat Hormuz tanpa tol" bersamaan dengan "pencabutan segera" blokade maritim AS. Pernyataan ini menandai perubahan sikap yang signifikan dari retorika keras yang sebelumnya ia tunjukkan terhadap Iran.
Pencairan Aset dan Dampak Geopolitik
Soal pencairan aset, Mehr mengutip isi rancangan yang menyebutkan bahwa "sebesar 24 miliar dolar AS aset Iran harus dicairkan selama periode 60 hari negosiasi final. Setengah dari jumlah itu harus diberikan kepada Iran sebelum dimulainya negosiasi."
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Mohsen Rezaei, dalam sebuah upacara peringatan di Kota Dezful, juga mengonfirmasi pencairan aset tersebut. Menurut Rezaei, konflik yang baru saja dialami Iran justru meningkatkan posisi negara itu di tingkat global dan memperkuat kemampuan penangkalnya. Ia mengeklaim kemampuan tersebut telah berkembang hingga membuat Trump, yang ia sebut sebagai "penjudi", kini khawatir untuk bernegosiasi dengan Teheran.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pertamina Bantah Isu Penghapusan Pertalite, Pastikan Harga dan Pasokan Tetap Stabil
Iran Belum Pastikan Teken Damai dengan AS, Teheran Minta Washington Tak Tergesa-gesa
CIA Rilis Dokumen Kepanikan Warga Budapest Akibat ‘Piring Terbang’ pada 1955
Kreator Konton Ekstrem Spiderman Yaman Tewas Jatuh ke Kawah Vulkanik saat Panjat Tebing