Dalam dua bulan terakhir, militer AS telah melancarkan serangan mematikan terhadap setidaknya 21 kapal yang diduga mengangkut narkoba. Serangan ini menewaskan 80 orang, meski AS tidak memberikan bukti bahwa kapal-kapal tersebut terlibat penyelundupan. Sebagai respons, Venezuela memobilisasi unit militer reguler dan milisi sipil di seluruh negeri.
Misi "Operasi Southern Spear" dan Persiapan Perang
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan misi baru "Operasi Southern Spear" untuk membasmi "teroris narkotika" dari belahan bumi Barat. Hegseth menegaskan bahwa Presiden Trump telah memerintahkan tindakan dan Departemen Perang sedang melaksanakannya.
Laporan media menyebutkan bahwa Trump telah diberikan pilihan operasi militer di Venezuela, termasuk serangan darat, oleh pejabat militer senior. Washington juga mengumumkan pengiriman kapal perang dan kapal selam ke lepas pantai Venezuela, sementara Hegseth menyatakan kesiapan militer untuk operasi, termasuk penggantian rezim.
Venezuela Siagakan 4,5 Juta Pasukan Balas Ancaman AS
Menanggapi ancaman tersebut, Maduro mengumumkan pengerahan pasukan sebanyak 4,5 juta orang. Dia menyatakan kesiapan Venezuela untuk menangkis serangan apa pun. Militer Venezuela telah disiagakan secara intensif dengan penyebaran sarana darat, udara, laut, rudal, sistem persenjataan, unit militer, dan milisi Bolivarian.
Serangan AS terhadap kapal-kapal di Karibia dan Samudra Pasifik telah memicu perdebatan internasional mengenai pembunuhan di luar hukum. Washington hingga kini belum memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran digunakan untuk menyelundupkan narkoba.
Artikel Terkait
Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama NYC, Gunakan Alquran Bersejarah di Pelantikan 2026
Ramalan Dukun Peru 2026: Prediksi Sakit Trump & Kaburnya Maduro
Ketegangan Arab Saudi vs UEA di Yaman: Ultimatum, Serangan, dan Retaknya Koalisi
Banding Najib Razak: Upaya Hukum Terhadap Vonis 15 Tahun Penjara & Denda Rp47 Triliun Kasus 1MDB