PARADAPOS.COM - Lebih dari 150 pesawat tempur Amerika Serikat, termasuk jet siluman F-35 dan F-22 Raptor, telah dikerahkan ke berbagai pangkalan di Eropa dan Timur Tengah. Peningkatan militer besar-besaran ini terjadi di tengah ketegangan yang memanas antara Washington dan Tehran, menyusul ancaman serangan terbatas AS dan peringatan keras Iran untuk membalas setiap agresi. Analisis citra satelit dan data penerbangan mengungkap konsentrasi kekuatan udara AS yang signifikan, sementara upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi terus digaungkan oleh pihak-pihak terkait.
Pengerahan Kekuatan Udara AS Terungkap Lewat Citra Satelit
Data intelijen terbuka memberikan gambaran nyata tentang skala pengerahan militer AS. Citra satelit yang diambil pada Jumat (20/2/2026) menunjukkan lebih dari 60 pesawat tempur, termasuk selusin jet F-35 generasi terbaru, telah bersiaga di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Tidak hanya di Timur Tengah, video dari Bandara Chania di Pulau Kreta, Yunani, pada hari Sabtu (21/2/2026) juga menangkap keberadaan sepuluh unit F-35 tambahan. Pergerakan ini menandai suatu eskalasi kehadiran militer yang kasat mata di kawasan yang sudah rentan.
Armada pengintaian dan pendukung AS juga tampak diperkuat. Lebih dari sepertiga armada pesawat peringatan dini dan kendali E-3G Sentry telah dialihkan ke kawasan ini, bersama dengan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara. Di front Atlantik, setidaknya satu unit pesawat tempur F-16 Fighting Falcon telah mendarat di Azores, Portugal, memperlihatkan jangkauan logistik operasi ini.
Kapal Induk dan Sistem Rudal: Persiapan di Laut
Selain kekuatan udara di darat, pengerahan kekuatan laut AS juga menjadi perhatian. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford dilaporkan telah membawa puluhan pesawat tambahan serta sistem pertahanan rudal yang dilengkapi dengan misil Tomahawk. Kombinasi kekuatan dari udara dan laut ini memberikan AS kemampuan proyeksi kekuatan yang fleksibel, sekaligus menjadi pesan deterensi yang jelas. Menurut analisis, separuh lebih dari pesawat yang baru dikerahkan tersebut ditempatkan di pangkalan udara Eropa, yang dianggap berada di luar jangkauan efektif sebagian besar sistem rudal Iran, sebuah langkah strategis yang mempertimbangkan risiko.
Ancaman Serangan dan Peringatan Balasan
Ketegangan ini dipicu oleh laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan berskala besar terhadap Iran jika diplomasi atau serangan terbatas dinilai gagal. Berita ini, yang dikutip dari sumber dalam pemerintahan, langsung memicu reaksi keras dari Tehran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaili Baghaei, menegaskan sikap negaranya. "Iran akan menganggap 'serangan terbatas' AS dalam bentuk apa pun sebagai tindakan agresi," tegasnya.
Peringatan yang lebih rinci dan formal disampaikan oleh perwakilan tetap Iran untuk PBB melalui surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB. Surat tersebut menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi siap membalas.
"Republik Islam Iran telah berulang kali menyatakan di tingkat tertinggi bahwa mereka tidak mencari ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun," isi surat itu menjelaskan.
Namun, surat itu juga memuat ancaman yang gamblang. "Semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan itu akan menjadi sasaran yang sah dalam konteks respons defensif Iran," tulis perwakilan Iran tersebut, seraya menambahkan, "Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas konsekuensi yang tidak terduga dan tidak terkendali."
Seruan Dialog dari Yordania dan Isu Regional
Di tengah ancaman yang melayang, suara menyerukan de-eskalasi terus disampaikan. Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein menekankan pentingnya jalan diplomatik. Dalam pertemuannya dengan Sindikasi Jurnalis Yordania, sang pemimpin menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga stabilitas.
Raja Abdullah menekankan bahwa solusi dialog dan politik menyusul perkembangan terkait Iran adalah jalan untuk mencegah eskalasi di kawasan. "Kerajaan Yordania tidak akan memperbolehkan adanya pelanggaran ruang udara dan tidak akan menjadi arena perang," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Raja Abdullah juga menyentuh isu regional lain yang sensitif. Dia menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan upaya melindungi hak-hak rakyat Palestina dan mencegah tindakan Israel mengubah status quo di Tepi Barat dan Yerusalem. Selain itu, dukungan terhadap upaya Suriah dalam menjaga keamanan dan integritas kawasan juga ditegaskannya, menunjukkan kompleksitas dan keterkaitan berbagai konflik di Timur Tengah yang membuat situasi saat ini semakin runyam.
Artikel Terkait
Negara-Negara Teluk Dorong Diplomasi Cegah Perang AS-Iran, Khawatirkan Hegemoni Israel
Khamenei Siapkan Rencana Suksesi Darurat untuk Antisipasi Gugur dalam Konflik dengan AS
Dubes AS untuk Israel Dukung Klaim Teritorial Israel Berdasarkan Alkitab, Picu Kecaman
AS dan Iran Siagakan Pasukan, Kapal Induk USS Gerald Ford Dikerahkan ke Kawasan Rawan