Putra Menteri Keuangan Israel Luka Parah dalam Serangan Mortir Hizbullah

- Rabu, 11 Maret 2026 | 04:50 WIB
Putra Menteri Keuangan Israel Luka Parah dalam Serangan Mortir Hizbullah

PARADAPOS.COM - Seorang putra dari Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengalami luka parah akibat serangan mortir di dekat perbatasan Lebanon utara. Insiden yang terjadi pada awal Maret 2026 ini juga melukai delapan tentara Israel lainnya. Kelompok Hizbullah diduga berada di balik serangan ini, yang menandai eskalasi baru dalam ketegangan lintas batas yang telah berlangsung lama.

Kondisi Korban dan Pernyataan Sang Ayah

Anak laki-laki Smotrich, Benya Hebron, yang bertugas di Brigade Golani, mengalami cedera serius. Serpihan mortir dilaporkan menembus punggung dan perutnya, dengan satu pecahan hingga merusak hati dan berhenti di dekat pembuluh darah besar. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif.

Dalam sebuah pernyataan yang dibagikan melalui media sosial, sang menteri mengungkapkan kekhawatiran sekaligus harapannya. "Ia dilarikan ke rumah sakit dan saya berharap ia pulih dan kembali sehat sepenuhnya serta bergabung kembali dengan [tentara Israel]," tutur Smotrich, seperti dilaporkan oleh sejumlah media.

Konteks Serangan dan Balasan

Serangan terhadap Hebron ini bukanlah insiden terisolasi. Laporan dari lapangan menunjukkan, pada hari yang sama, pejuang Hizbullah melancarkan serangkaian serangan ke arah wilayah Israel, termasuk Dataran Tinggi Golan dan Haifa, yang mengakibatkan lima tentara Israel luka-luka serius. Gelombang serangan ini disebut sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin senior Iran dan terjadi meskipun terdapat perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Eskalasi ini terjadi dalam konteks konflik yang lebih luas, di mana serangan silang antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung berbulan-bulan, menelan banyak korban jiwa di Lebanon, termasuk warga sipil.

Posisi Politik Smotrich dan Kontroversi

Bezalel Smotrich, seorang politisi sayap kanan yang dikenal dengan pandangan kerasnya, secara terbuka mendukung operasi militer Israel di Lebanon. Ia berargumen bahwa kampanye tersebut diperlukan untuk menciptakan zona penyangga guna mengamankan perbatasan utara Israel secara permanen.

Namun, posisi politiknya sering kali kontroversial. Smotrich telah berulang kali membuat pernyataan yang dinilai rasis terhadap warga Palestina dan negara-negara pendukung mereka. Baru-baru ini, komentarnya yang merendahkan Arab Saudi terkait proses normalisasi hubungan memicu kecaman luas. Menyadari dampak diplomatik dari ucapannya, Smotrich kemudian menarik kembali pernyataannya.

Dia mengakui kekeliruannya dengan menyatakan, "Pernyataan saya tentang Arab Saudi tidak pantas, dan saya menyesal jika hal itu menyinggung pihak mana pun," ungkapnya, seperti dikutip dari kantor berita.

Insiden yang menimpa keluarganya ini menyoroti kompleksitas konflik di wilayah tersebut, di mana garis antara front politik, militer, dan personal seringkali kabur, dengan konsekuensi yang mendalam bagi semua pihak yang terlibat.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar