Intelijen Rusia Tuduh Uni Eropa Kembangkan Proyek Senjata Nuklir Rahasia

- Kamis, 09 April 2026 | 06:25 WIB
Intelijen Rusia Tuduh Uni Eropa Kembangkan Proyek Senjata Nuklir Rahasia

PARADAPOS.COM - Dinas intelijen luar negeri Rusia (SVR) secara resmi menuduh Uni Eropa tengah menjalankan proyek rahasia untuk mengembangkan senjata nuklir mandiri. Tudingan yang disampaikan melalui kantor berita TASS pada Rabu (8/4/2026) ini menyebut ambisi tersebut sebagai "kegilaan politik" yang dapat mengancam stabilitas keamanan global dan memicu perlombaan senjata baru.

Klaim Intelijen Rusia dan Tudingan ke Brussels

Dalam pernyataan yang dirilis, SVR mengklaim telah mengumpulkan informasi bahwa di koridor markas besar Uni Eropa di Brussels, para pejabat diam-diam menyusun strategi produksi senjata pemusnah massal. Alasan yang dipakai, menurut Moskow, adalah untuk menangkal ancaman dari Rusia yang mereka sebut sebagai fiktif. Pernyataan itu bahkan menyebut nama Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dengan perbandingan yang sangat keras terhadap pemimpin Jerman Nazi.

"Para pemimpin Uni Eropa telah mencapai titik terendah dari kegilaan dan ketidaktanggungjawaban politik mereka yang berakar pada kebencian abnormal terhadap Rusia," tulis pernyataan SVR tersebut.

Lebih lanjut, badan intelijen itu menguraikan, "Pekerjaan rahasia telah dimulai di koridor markas besar Uni Eropa untuk mempelajari cara-cara untuk membangun kemampuan produksi senjata nuklir, sementara para pejabat Uni Eropa mengklaim satu-satunya tujuan adalah untuk mencegah ancaman Rusia fiktif."

Kapasitas Teknologi Jerman yang Disinggung

Laporan SVR secara khusus menyoroti kapasitas teknologi negara-negara anggota, dengan Jerman sebagai fokus utama. Intelijen Rusia mengklaim bahwa pakar Jerman memiliki kemampuan teknis untuk memproduksi bahan fisil tingkat senjata dalam waktu singkat.

Menurut klaim mereka, laboratorium penelitian di sejumlah kota seperti Karlsruhe dan Dresden bisa menghasilkan plutonium yang cukup untuk satu perangkat nuklir hanya dalam satu bulan. Sementara itu, fasilitas pengayaan uranium di Gronau disebut mampu menghasilkan material tingkat senjata dalam hitungan minggu.

"Para ahli Jerman mampu secara diam-diam memperoleh plutonium tingkat senjata yang cukup untuk perangkat nuklir dalam waktu sekitar satu bulan di laboratorium penelitian di Karlsruhe, Dresden, Erlangen, dan Julich, dan uranium tingkat senjata di fasilitas pengayaan Gronau dalam waktu seminggu," jelas SVR dalam pernyataannya.

Peringatan dan Dampak terhadap Keamanan Global

Moskow menggunakan temuan ini untuk memperingatkan dunia tentang konsekuensi yang jauh lebih besar. Rusia menilai bahwa jika Uni Eropa benar-benar melanjutkan ambisi nuklirnya, hal itu bukan hanya pelanggaran terhadap komitmen non-proliferasi, tetapi juga akan membuka kotak Pandora bagi perlombaan senjata baru yang tidak terkendali.

SVR menegaskan bahwa Brussel telah memilih jalan berbahaya yang dapat meruntuhkan arsitektur keamanan internasional yang telah dibangun selama puluhan tahun. Sebagai tanggapan, Rusia mendesak komunitas global untuk turun tangan.

"Kami mendesak administrasi AS dan semua pemerintah untuk melakukan segala kemungkinan guna menghentikan Uni Eropa memperoleh senjata nuklir," tegas penutup pernyataan intelijen Rusia tersebut.

Hingga saat ini, pihak Uni Eropa belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi atas serangkaian tuduhan berat dari Moskow ini. Keheningan dari Brussels justru menambah ketegangan di tengah situasi geopolitik global yang sudah rumit.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar