PARADAPOS.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengimbau semua kapal untuk menghindari jalur utama Selat Hormuz dan beralih ke rute alternatif yang telah ditetapkan. Peringatan ini dikeluarkan menyusul klaim IRGC bahwa terdapat banyak ranjau laut yang bertebaran di jalur pelayaran utama selat strategis tersebut, yang berpotensi membahayakan keselamatan kapal. Pengumuman ini muncul di tengah situasi geopolitik yang tegang, pasca kesepakatan gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat yang dicapai pada Selasa (7/4/2026) malam.
Peringatan Keamanan Maritim dan Arahan Rute Baru
Dalam pernyataannya yang dikutip media lokal, IRGC secara eksplisit mendesak seluruh kapal yang melintasi selat itu untuk mematuhi prinsip keselamatan maritim. Lembaga militer itu menegaskan bahwa peralihan rute merupakan langkah penting untuk melindungi kapal-kapal dari risiko tabrakan dengan ranjau laut yang tidak terdeteksi. Bersamaan dengan peringatan tersebut, IRGC juga membagikan petunjuk navigasi yang rinci mengenai rute masuk dan keluar alternatif yang harus dilalui.
"Seluruh kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz, dengan ini diberitahu untuk mematuhi prinsip-prinsip keselamatan maritim dan agar terlindungi dari kemungkinan hantaman ranjau laut, mereka harus mengambil rute alternatif untuk lalu lintas di Selat Hormuz," jelas pernyataan resmi IRGC.
Latar Belakang Ketegangan dan Kesepakatan yang Rapuh
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari ketegangan tinggi antara Teheran dan Washington yang baru saja mereda sesaat. Kedua pihak dikabarkan menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, yang dirundingkan tepat kurang dari satu jam sebelum batas waktu ultimatum Presiden AS Donald Trump berakhir. Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan terhadap target infrastruktur penting Iran jika negara itu menolak berunding dan membuka akses Selat Hormuz.
Ancaman dari pemimpin AS itu bahkan lebih keras, dengan pernyataan bahwa AS siap "melenyapkan peradaban Iran sampai tak bisa dipulihkan lagi". Ancaman semacam ini menggambarkan betapa gentingnya situasi dan bagaimana isu Selat Hormuz menjadi titik sentral perselisihan.
Dampak Pembatasan di Selat Strategis
Sebelumnya, sejak awal Maret 2026, Iran telah membatasi akses pelayaran melalui selat sempit yang menjadi jalur vital bagi sekitar sepertiga ekspor minyak laut global itu. Pembatasan akses ini telah memicu gejolak di pasar energi dunia, menyebabkan lonjakan harga yang signifikan. Kebijakan untuk mengalihkan rute pelayaran kali ini, meski dikemas sebagai imbauan keselamatan, dipandang oleh banyak pengamat sebagai bagian dari dinamika ketegangan yang lebih luas dan upaya Iran menegaskan kendali atas perairan di sekitar wilayahnya. Keberadaan ranjau laut, jika dikonfirmasi, tentu menambah lapisan kompleksitas dan risiko di salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
Artikel Terkait
Intelijen Rusia Tuduh Uni Eropa Kembangkan Proyek Senjata Nuklir Rahasia
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh Usai Serangan Israel di Lebanon
Iran Tolak Ultimatum Trump, Krisis Hormuz dan Serangan Balasan Guncang Pasar Energi Global
Laporan Intelijen AS-Israel: Putra Khamenei dalam Kondisi Kritis di Qom