Presiden Trump Beri Iran Ultimatum Tiga Hari untuk Ajukan Proposal Damai atau Hadapi Serangan Militer AS

- Selasa, 19 Mei 2026 | 23:25 WIB
Presiden Trump Beri Iran Ultimatum Tiga Hari untuk Ajukan Proposal Damai atau Hadapi Serangan Militer AS

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran pada Selasa (19/5/2026), memberi waktu hanya dua hingga tiga hari bagi Teheran untuk mengajukan proposal perdamaian. Ancaman ini muncul setelah Trump sebelumnya menunda serangan militer besar-besaran yang disebutnya sudah di ambang peluncuran. Pernyataan itu disampaikan di dekat lokasi pembangunan ballroom baru Gedung Putih, menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang telah berlangsung berbulan-bulan antara Washington dan Teheran.

Ultimatum Tiga Hari dari Gedung Putih

Trump mengklaim militer AS sebenarnya sudah berada di ambang peluncuran operasi militer terhadap Iran. “Rezim Iran tahu saya sedang bersiap untuk menyerang,” katanya kepada wartawan. “Saya tidak memberi tahu siapa pun kapan. Tapi mereka tahu kami sudah sangat dekat. Saya hanya satu jam lagi dari membuat keputusan untuk menyerang hari ini,” lanjutnya.

Trump bahkan menyebut dunia mungkin tidak sedang membicarakan proyek pembangunan Gedung Putih jika keputusan serangan itu benar-benar diambil. Ia mengatakan telah memberi tahu pejabat Iran bahwa waktu untuk mencapai kesepakatan damai sangat terbatas. “Saya memberi mereka dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal pekan depan. Jangka waktunya terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, jika tidak ada kesepakatan yang dianggap dapat diterima Washington, maka opsi militer akan kembali dijalankan. Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. “Kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Jika mereka punya, mereka akan mulai dengan Israel. Mereka akan menghancurkannya dengan cepat,” tegasnya. Trump juga menuduh Iran berpotensi menyerang negara-negara Teluk lainnya seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar apabila konflik terus membesar.

Serangan AS yang Sempat Disiapkan

Sehari sebelumnya, Trump mengejutkan publik setelah mengungkap dirinya menunda serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Selasa. Melalui unggahan di Truth Social pada 18 Mei 2026, Trump mengatakan keputusan itu diambil karena sedang berlangsung “negosiasi serius” untuk mengakhiri perang. Ia juga mengaku mendapat permintaan langsung dari para pemimpin Arab Saudi, UEA, dan Qatar agar tidak meluncurkan serangan baru terhadap Iran demi mencegah kawasan Timur Tengah jatuh ke konflik yang lebih luas.

Namun di balik penundaan itu, Trump mengaku militer AS sebenarnya telah siap tempur sepenuhnya. “Kami semua sudah siap. Kapal-kapal perang sudah penuh persenjataan. Kami siap memulai,” ungkapnya. Meski demikian, Trump tidak mengungkap detail target maupun bentuk operasi militer yang sebelumnya direncanakan.

Ancaman “Big Hit” Baru terhadap Iran

Situasi memanas kembali setelah Trump pada Selasa malam kembali membuka kemungkinan serangan baru terhadap Iran. “Saya berharap kita tidak perlu perang. Tapi mungkin kami harus memberi mereka pukulan besar lagi,” ujarnya. Ia menambahkan keputusan final akan segera diketahui dalam waktu dekat. Pernyataan itu mempertegas bahwa meski jalur diplomasi masih dibuka, opsi militer tetap berada di atas meja Gedung Putih.

Iran Ajukan Proposal Perdamaian

Di tengah tekanan AS, media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah menyiapkan proposal kesepakatan baru. Isi proposal itu disebut mencakup penarikan pasukan dari wilayah dekat Iran, penghentian perang di semua front termasuk Lebanon, kompensasi kerusakan akibat konflik, pencabutan sanksi ekonomi, dan penghentian blokade maritim AS. Namun, pejabat tinggi Iran tetap menegaskan bahwa hak Teheran untuk memperkaya uranium tidak dapat dinegosiasikan.

Sikap keras Iran juga disampaikan Jenderal Ali Abdollahi melalui kantor berita Tasnim News. “Jika musuh melakukan kesalahan lagi, kami akan menghadapi mereka dengan kekuatan jauh lebih besar dibanding konflik sebelumnya,” tegas Abdollahi. Iran juga memperingatkan akan membuka front perang baru jika AS kembali melancarkan serangan.

Timur Tengah Kian Membara

Konflik antara AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 kini semakin meluas dan memicu ketegangan regional. Iran dan kelompok sekutunya di Irak dilaporkan beberapa kali melancarkan serangan drone ke negara-negara Teluk Arab. UEA bahkan baru-baru ini menuding Iran berada di balik serangan drone dan rudal meski gencatan senjata sempat diumumkan. Pada Minggu lalu, sebuah serangan drone memicu kebakaran di dekat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir milik UEA. Pemerintah Emirat menyebutnya sebagai “serangan teroris tanpa provokasi.”

Harga Minyak Melonjak Tajam

Ketegangan di kawasan Teluk juga mulai mengguncang ekonomi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan terganggu sejak awal konflik. Jalur strategis pengiriman minyak dunia itu kini mengalami pembatasan lalu lintas. Dampaknya, harga minyak mentah Brent melonjak menembus 110 dolar AS per barel. Harga bensin di Amerika Serikat juga terus naik dan kini rata-rata berada di atas 4,50 dolar AS per galon. Kondisi ini mulai memicu tekanan politik domestik terhadap Trump. Sejumlah survei terbaru menunjukkan hampir dua pertiga warga Amerika menilai perang melawan Iran sebagai keputusan yang salah. Sementara lebih dari separuh warga mengaku kenaikan harga bahan bakar telah menjadi beban ekonomi serius.

Dunia Menanti Langkah Trump

Kini dunia menunggu keputusan akhir Gedung Putih. Apakah ultimatum tiga hari Trump akan berujung pada kesepakatan damai, atau justru membuka babak baru perang besar di Timur Tengah. Dengan armada militer AS yang disebut sudah siaga penuh, ancaman terhadap Iran bukan lagi sekadar retorika politik. Satu keputusan dari Washington dalam beberapa hari ke depan berpotensi menentukan stabilitas kawasan, harga energi global, hingga arah geopolitik dunia.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler