Pakistan Kirim 8.000 Tentara, Jet Tempur, dan Sistem Pertahanan Udara ke Arab Saudi di Tengah Konflik AS-Israel vs Iran

- Selasa, 19 Mei 2026 | 08:25 WIB
Pakistan Kirim 8.000 Tentara, Jet Tempur, dan Sistem Pertahanan Udara ke Arab Saudi di Tengah Konflik AS-Israel vs Iran

PARADAPOS.COM - Pakistan telah mengerahkan 8.000 personel militer, satu skuadron jet tempur, dan sistem pertahanan udara buatan China ke Arab Saudi. Langkah ini merupakan realisasi dari pakta pertahanan bersama yang ditandatangani kedua negara pada September 2025. Pengerahan aset militer tersebut, yang dilaporkan oleh Reuters pada Senin, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengerahan pasukan dan perlengkapan tempur Pakistan ke Arab Saudi sudah dimulai sejak awal April. Satu skuadron yang dikerahkan terdiri dari sekitar 16 pesawat, dengan mayoritas merupakan jet tempur JF-17—pesawat yang diproduksi bersama dengan China. Selain itu, Islamabad juga menempatkan sistem pertahanan udara HQ-9 buatan China di kerajaan tersebut.

Kehadiran persenjataan canggih buatan China ini beroperasi berdampingan dengan sistem berteknologi tinggi buatan Amerika Serikat yang sudah lebih dulu ada di Arab Saudi. Negeri minyak itu diketahui memiliki sistem pertahanan udara Patriot dan Thaad, serta memiliki persediaan pencegat Patriot terbesar di kawasan Teluk.

Pakta Pertahanan di Tengah Perang

Pakta pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan ditandatangani pada September 2025, menyusul serangan Israel terhadap negosiator Hamas di Doha, Qatar. Perang antara AS-Israel dan Iran kemudian memicu respons Teheran yang meluncurkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Teluk.

Pada pekan-pekan awal konflik, sejumlah komentator Saudi menyoroti pakta pertahanan dengan Pakistan. Mereka menyebut perjanjian itu menempatkan Arab Saudi di bawah payung perlindungan negara berkekuatan nuklir.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Islamabad mulai waspada terhadap beberapa pernyataan tersebut dan telah mendiskusikannya dengan pihak Arab Saudi. Pengerahan aset militer ini, menurut pengamat, menegaskan upaya Islamabad untuk menjawab kekhawatiran keamanan Riyadh.

Reuters melaporkan bahwa perjanjian tersebut membuka kemungkinan pengerahan hingga 80.000 tentara Pakistan ke Arab Saudi untuk mengamankan perbatasan kerajaan. Kesepakatan itu juga mencakup pengerahan kapal perang Pakistan, meskipun belum dapat diverifikasi apakah kapal-kapal tersebut sudah tiba di perairan Arab Saudi.

Situasi geografis kawasan menambah kompleksitas. Selat Hormuz praktis tertutup akibat blokade yang saling bersaing antara Iran dan AS. Sementara itu, pantai Laut Merah Arab Saudi hanya bisa diakses melalui Selat Bab el-Mandeb yang sempit, jalur yang sebelumnya menjadi sasaran serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas.

Hubungan Historis Dua Negara

Arab Saudi dan Pakistan memiliki hubungan keamanan yang panjang. Kemitraan ini kembali menjadi sorotan di tengah perang melawan Iran. Islamabad sebelumnya memediasi gencatan senjata antara AS dan Iran pada April lalu, sebuah langkah yang didukung penuh oleh Riyadh. Arab Saudi bahkan kemudian memperpanjang bantuan keuangan kepada negara Asia Selatan tersebut.

Kedua negara juga telah membahas kemungkinan perluasan pakta keamanan dengan melibatkan Turki. Di sisi lain, Arab Saudi disebut menggunakan persenjataan Pakistan sebagai daya tarik untuk menjauhkan beberapa aktor regional dari pengaruh Uni Emirat Arab.

Pada April lalu, MEE melaporkan bahwa Pakistan mengirimkan lima pesawat kargo berisi senjata ke pemerintah Libya bagian timur yang dipimpin oleh panglima militer Khalifa Haftar. Pengiriman itu merupakan bagian dari kesepakatan yang didanai oleh Arab Saudi.

Ancaman Trump dan Respons Iran

Tekanan AS terhadap Iran belum mereda. Laporan New York Times menyebut bahwa Washington dan Tel Aviv mulai mempersiapkan serangan baru ke Iran. Presiden AS, dalam pernyataannya, menyebut waktu terus berjalan dan meminta Iran segera menyetujui proposal perdamaian yang ditawarkan.

"Mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," tulisnya di platform Truth Social.

"WAKTU SANGAT PENTING!"

Pesan itu disampaikan saat presiden berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Ahad, demikian laporan Times of Israel yang mengutip pernyataan kantor Netanyahu.

Pada hari Senin, Iran mengumumkan telah menanggapi proposal terbaru AS. Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyatakan dalam konferensi pers bahwa pertukaran dengan Washington terus berlanjut melalui mediator Pakistan. "Seperti yang kami umumkan kemarin, kekhawatiran kami telah disampaikan kepada pihak Amerika," ujarnya, seperti dilaporkan AFP.

Media Iran sebelumnya melaporkan bahwa AS gagal memberikan konsesi konkret kepada Teheran. Kantor berita semi-resmi Mehr menyebut kurangnya kompromi dari pihak Amerika akan menyebabkan kebuntuan dalam negosiasi.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar