Titiek menjelaskan bahwa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terhubung dalam satu ekosistem kritis, yaitu Pegunungan Bukit Barisan. Bencana yang terjadi secara serentak dan berulang di ketiga wilayah ini menunjukkan adanya masalah serius pada daerah hulu yang berfungsi sebagai menara air.
"Ketika banjir terjadi serentak dan berulang, artinya ada yang salah dengan menara air kita di hulu," ujarnya.
Kementerian Kehutanan Janji Evaluasi Menyeluruh
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Raja Juli Antoni, menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh. Peristiwa bencana ini diakui sebagai momentum untuk introspeksi dan perbaikan tata kelola kehutanan.
“Peristiwa ini memecut saya dan jajaran di Kementerian untuk berefleksi dan mengevaluasi secara menyeluruh terhadap penata-kelolaan hutan, sehingga peristiwa serupa bisa dimitigasi dengan lebih baik di kemudian hari,” kata Raja Juli Antoni.
Rapat ini menekankan urgensi perbaikan pengelolaan hutan berkelanjutan di Sumatera untuk mencegah terulangnya bencana ekologis dan kerugian yang lebih besar di masa depan.
Artikel Terkait
Pengeroyokan Guru SMK di Jambi: Kronologi Lengkap & Dua Versi Cerita yang Beredar
Mikrofon Putri PB XIII Dimatikan Saat Protes SK Cagar Budaya Keraton Solo, Menteri Fadli Zon Dikecam
Ricuh di Keraton Solo: Protes GKR Rumbai Gagalkan Seremonial SK Fadli Zon ke Tedjowulan
Bocil Block Blast Viral: Ancaman Malware & Hukum yang Wajib Diwaspadai