Baca Juga: Gedung Bekas Kewedanaan Menes, Dibangun Sekitar Tahun 1848, Cagar Budaya di Pandeglang
Dengan tjara jang lain-lainpun ditambahnja kesukaran orang Belanda : ia menjuruh anak buahnja berganti-ganti merampok ke Djakarta, sedang kebun-kebun tebu disebelah Barat Tjiangke senantiasa dirusakkan oleh orang Banten.
Meskipun Kumpeni sangat berkeberatan, tapi Sultan Agung terus-menerus memadjukan perniagaan negerinja dengan orang-orang dari luar negeri.
Banten berdagang ramai dengan Persia, India, tanah Arab, Hindia Belakang, Manila, Tiongkok dan Djepang.
Baca Juga: Menara Air Pandeglang, Dibangun pada 1848, Cagar Budaya di Pandeglang
Pada tahun 1671 Sultan Agung mengangkat putera mahkotanja mendjadi radja pembantu, dengan gelar Sultan Abdulnasar Abdu'lkahar.
Sesudah itu Sultan Agung tinggal bersemajam di Tirtajasa, tapi tidak melepaskan pemerintahan seluruhnja.
Artikel asli: nusantara62.com
Artikel Terkait
Insiden Paspampres vs Pers Inggris di London: Klarifikasi Resmi dan Kronologi Lengkap
Indonesia dalam Dewan Perdamaian AS-Israel: Langgar Prinsip Bebas Aktif?
Satpam SMP di Luwu Utara Dihajar Murid: Kronologi Lengkap & Fakta Polisi
Fakta Kasus Es Gabus Viral: Hasil Lab Bantah Tuduhan Spons, Polisi Minta Maaf