Trump Umumkan Gencatan Senjata dengan Iran, Dikritik Tajam Mantan Sekutu MAGA

- Jumat, 10 April 2026 | 04:25 WIB
Trump Umumkan Gencatan Senjata dengan Iran, Dikritik Tajam Mantan Sekutu MAGA

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran pada 7 April 2026, hanya beberapa jam setelah mengancam akan menghancurkan negara tersebut di media sosial. Keputusan mendadak ini mengakhiri konflik militer yang dimulai pada akhir Februari tanpa otorisasi Kongres, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, dan memicu gelombang kecaman tajam dari para pendukung setianya sendiri. Perang ini dinilai telah mengikis janji kampanye "America First" dan mengoyak koalisi politik inti yang selama ini mendukung Trump.

Janji Kampanye yang Terlupakan

Kembali ke Gedung Putih pada 2024, Trump membawa janji tegas: tidak akan ada lagi keterlibatan Amerika dalam perang luar negeri yang baru. Janji "menghentikan perang luar negeri" itu menjadi magnet bagi pemilih yang lelah dengan konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan khawatir akan keselamatan keluarga mereka di medan tempur. Namun, komitmen itu tampak sirna ketika pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Tindakan itu membuka babak konflik baru yang justru dijanjikan akan dihindari.

Eskalasi ancaman Trump mencapai puncaknya pada hari Minggu Paskah. Melalui unggahan di Truth Social, ia menulis, "Selasa nanti akan menjadi hari pembangkit listrik dan jembatan Iran, dua dalam satu. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, jika tidak kalian akan hidup di neraka, tunggu saja! Puji Tuhan." Ancaman itu kemudian berlanjut dengan pernyataan yang lebih keras, "Malam ini seluruh peradaban akan musnah, tidak akan pernah bisa pulih." Retorika semacam itu, yang berubah dari penolakan perang menjadi ancaman pemusnahan, mengejutkan banyak pengamat dan pendukung.

Pemberontakan dari Dalam: Basis MAGA Berbalik Arah

Perubahan sikap drastis Trump itu tidak hanya mengecewakan, tetapi juga memicu pemberontakan terbuka dari tokoh-tokoh terkemuka yang selama ini menjadi corong gerakan "Make America Great Again" (MAGA). Kekecewaan mereka bukan lagi bisikan, melainkan kecaman publik yang keras dan personal.

Mantan anggota kongres Marjorie Taylor Greene, salah satu pendukung paling vokal, dengan gamblang menyuarakan keprihatinannya. "Bagaimana mungkin orang yang waras bisa menyerukan agar seluruh penduduk suatu peradaban dieksekusi, dimusnahkan seluruhnya, tidak akan pernah ada lagi? Itulah yang diserukan presiden. Ini menunjukkan ketidakstabilan serius dalam pemikirannya. Ini gila!" tegasnya dalam sebuah wawancara. Greene bahkan menyerukan penggunaan Pasal 25 Amandemen Konstitusi untuk mencopot Trump dari jabatan.

Tokoh media konservatif Tucker Carlson, yang dulu merupakan sekutu kuat, meluncurkan kritik pedas selama 43 menit di acaranya. Ia menyebut pernyataan Paskah Trump "menjijikkan di semua tingkatan" dan mengecam serangan terhadap infrastruktur sipil Iran sebagai "kejahatan perang". Carlson secara terbuka mendorong staf Gedung Putih dan perwira militer untuk menolak perintah presiden.

Kritik juga datang dari Candace Owens, yang secara tegas memutuskan hubungan. Ia menyebut Trump sebagai "maniak genosida" dan mendesak intervensi dari Kongres dan militer. Sementara itu, Laura Loomer, yang dijuluki "Ratu MAGA", mengecam kesepakatan gencatan senjata sebagai bentuk kekalahan. Bahkan Alex Jones, figur sayap kanan ekstrem, dalam siaran emosionalnya menyebut Trump memiliki "risiko demensia" dan harus dicopot.

Mengabaikan Konstitusi dan Menggeser Prioritas

Di balik retorika, masalah mendasar lainnya adalah prosedur konstitusional. Konstitusi AS dengan jelas memberikan wewenang menyatakan perang kepada Kongres, bukan Presiden. Aksi militer terhadap Iran dilakukan tanpa otorisasi resmi legislatif, sebuah langkah yang oleh banyak ahli dianggap melemahkan sistem checks and balances. Seorang cendekiawan dari Harvard mengingatkan, "Para perumus konstitusi sangat meyakini bahwa dalam masalah sepenting menyatakan perang, tidak boleh ada situasi tindakan administratif sepihak."

Lebih dalam lagi, perang ini dianggap telah menggeser janji "America First" menjadi "Israel First". Bagi banyak mantan pendukung, Trump dianggap mengkhianati pemilihnya dengan menyeret Amerika ke dalam konflik yang lebih mengutamakan kepentingan sekutu daripada rakyatnya sendiri. Greene dengan tegas menyatakan posisinya, "Trump terpilih untuk berperang melawan deep state Amerika dan mengakhiri perang luar negeri yang melibatkan Amerika; bukan untuk melancarkan perang atas nama negara asing lain, Israel, sambil membantai suatu peradaban."

Sentimen serupa diungkapkan Owens dengan lebih lugas, "Trump mengkhianati Amerika dan mengharapkan Anda mati untuk Israel." Kritik-kritik ini menyoroti persepsi bahwa biaya perang—baik nyawa tentara, ekonomi domestik, maupun reputasi internasional AS—ditanggung Amerika untuk kepentingan pihak lain.

Keretakan yang Mungkin Tak Terperbaiki

Ketika para tokoh inti yang membentuk narasi dan memobilisasi basis pendukung mulai meninggalkan kapal, fondasi politik seorang pemimpin menjadi goyah. Seruan untuk mencopot Trump dari jabatan, yang kini justru berasal dari lingkaran dalamnya sendiri, menandai titik nadir yang jarang terjadi. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai pemimpin gerakan, tetapi sebagai liabilitas. Istilah-istilah keras seperti "maniak genosida", "gila", atau "anti-Kristus" yang dilontarkan mantan sekutu menggambarkan betapa dalamnya keretakan yang terjadi.

Perang dengan Iran, yang dimulai sebagai upaya menunjukkan kekuatan, justru berpotensi mengubur kerajaan politik yang dibangun Trump bertahun-tahun. Gencatan senjata dua minggu mungkin menghentikan tembakan di Timur Tengah, tetapi dampak politiknya di dalam negeri terus bergema, mengikis otoritas dan warisan sang presiden dari dalam.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar