Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan Trans7 tidak bersifat tajam atau menyerang. Karena itu, ia meminta para santri dan alumni pesantren untuk bersikap terbuka terhadap kritik demi perbaikan diri dan lembaga.
“Menurut saya, kritik Trans7 itu tidak begitu tajam. Jangan terlalu sensi. Ambil sisi positifnya sebagai bahan introspeksi. Kadang-kadang saya juga menegur santri untuk membersihkan kamarnya — itu bagian dari pendidikan,” ucapnya.
KH Nur Ihya juga mengingatkan bahwa orang yang tidak pernah mengenyam kehidupan pesantren seharusnya tidak terburu-buru mengambil tindakan emosional atau mengancam pihak lain. “Kalau yang tidak pernah mondok, jangan langsung marah, mengancam, tidak sebegitunya. Ketika kiai dihina habib, tidak terketuk hatinya. Ini dunia yang terbalik,” tegasnya.
Pernyataan KH Nur Ihya tersebut menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi antara kalangan pesantren dan media setelah tayangan yang dianggap merendahkan lembaga pendidikan Islam tradisional itu viral di media sosial.
Sumber: https://suaranasional.com/2025/10/16/pengurus-pwi-ls-sesalkan-aksi-santri-geruduk-kantor-trans7/
Artikel Terkait
Ricuh di Keraton Solo: Protes GKR Rumbai Gagalkan Seremonial SK Fadli Zon ke Tedjowulan
Bocil Block Blast Viral: Ancaman Malware & Hukum yang Wajib Diwaspadai
Dokter Tifa Klaim 99,9% Ijazah Jokowi Palsu, Tuntut Transparansi 709 Dokumen
Noe Letto Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN, Sebut Pemerintah Pengkhianat Pancasila?