Banser NU Ancam Gorok Leher Karyawan Trans7, Ini Pemicu Tayangan Soal Pesantren

- Minggu, 19 Oktober 2025 | 05:25 WIB
Banser NU Ancam Gorok Leher Karyawan Trans7, Ini Pemicu Tayangan Soal Pesantren
GP Ansor dan Banser Protes Tayangan Trans7, Ancaman Gorok Leher ke Karyawan Viral

GP Ansor dan Banser Ancam Gorok Leher Karyawan Trans7, Ini Penyebab Polemik Tayangan Pesantren

Polemik tayangan di Trans7 yang dinilai menghina dunia pesantren dan kyai kini berujung pada aksi unjuk rasa. GP Ansor dan Banser turun langsung menyatakan keberatan mereka terhadap narasi yang dibangun stasiun televisi tersebut.

Aksi demonstrasi digelar di depan kantor Trans7 di kawasan Tandean, Jakarta Selatan. Dalam orasinya, perwakilan GP Ansor menegaskan bahwa tayangan tersebut telah memframing negatif kehidupan kyai dan pesantren.

GP Ansor Banser Siap Jadi Garda Terdepan

Sebagai organisasi yang bertugas menjaga kyai, ulama, dan pondok pesantren, GP Ansor dan Banser menyatakan siap menjadi garda terdepan jika ada yang berani menghina. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam aksi unjuk rasa mereka.

Peringatan Keras dan Ancaman ke Karyawan Trans7

Pihak GP Ansor dan Banser juga memberikan peringatan keras, bahkan ancaman, kepada karyawan Trans7. Mereka menyatakan kesiapan kader Banser untuk "menggorok leher" para pekerja stasiun televisi tersebut jika tayangan serupa terulang.

Kilas Balik Perjuangan dan Sejarah

Dalam orasinya, perwakilan juga mengingatkan tentang sejarah perjuangan anggota Ansor dan Banser yang telah gugur untuk Republik Indonesia. Mereka menegaskan bahwa kemerdekaan dan kenyamanan bekerja yang dinikmati generasi muda saat ini tidak lepas dari perjuangan Nahdlatul Ulama.

Insiden ini menjadi perhatian publik dan memicu diskusi panjang mengenai batasan dalam pemberitaan dan penghormatan terhadap institusi keagamaan di Indonesia.

Sumber artikel asli: Kilat.com

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar