Pemerintah Tetapkan Malang sebagai Pusat Bibit Unggas Nasional untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis

- Jumat, 06 Februari 2026 | 16:25 WIB
Pemerintah Tetapkan Malang sebagai Pusat Bibit Unggas Nasional untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis

PARADAPOS.COM - Pemerintah menjadikan Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai salah satu pusat strategis nasional untuk pengembangan bibit unggas (Grand Parent Stock/GPS) dalam proyek hilirisasi ayam terintegrasi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mempercepat pembangunan ekosistem perunggasan guna menjamin pasokan daging ayam dan telur, terutama untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan tambahan pasokan signifikan.

Merespons Lonjakan Kebutuhan dan Mengatasi Ketimpangan

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan bahwa proyek ini adalah respons atas lonjakan kebutuhan protein hewani sekaligus upaya mengatasi ketimpangan produksi yang selama ini terkonsentrasi di Pulau Jawa. Meski Indonesia telah mencapai status swasembada dan bahkan surplus untuk diekspor, program MBG menciptakan kebutuhan tambahan yang besar.

“Saat ini Indonesia sudah swasembada daging ayam dan telur dan kita bahkan juga sudah surplus dan ekspor. Namun dengan adanya program makan bergizi gratis terdapat penambahan kebutuhan untuk daging ayam sekitar 1,1 juta ton per tahun dan telur ayam sekitar 774 ribu ton,” ujarnya di Kabupaten Malang, Jumat (6/2/2026).

Ia menambahkan bahwa sekitar 63% produksi ayam dan telur nasional masih berasal dari Jawa. Proyek hilirisasi yang akan dibangun di 30 provinsi ini bertujuan mendorong pemerataan produksi ke luar pulau Jawa.

Fokus Malang sebagai Sentra Bibit Nasional

Dari 30 titik yang direncanakan, fase pertama proyek dimulai dengan groundbreaking di enam lokasi, termasuk Malang. Namun, peran Malang berbeda dengan daerah lainnya. Wilayah ini difokuskan khusus untuk pembangunan pembibitan GPS, mengingat ekosistem perunggasan di Jawa sudah mapan.

“Jadi khusus untuk Malang ini bukan membangun ekosistem utuh seperti yang di lima titik yang lain tetapi fokus pada pembangunan pembibitan grand parent stocknya. Karena di Jawa ekosistemnya sudah berjalan,” jelas Agung.

Bibit unggul dari fasilitas di Malang nantinya akan didistribusikan ke lokasi proyek di luar Jawa. Hal ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan bibit berkualitas sekaligus menjaga stabilitas harga bagi peternak rakyat di daerah baru.

Membangun Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Agung menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan kandang, tetapi upaya menyeluruh membentuk ekosistem industri perunggasan yang berkelanjutan. Rancangannya mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari hulu hingga hilir.

“Proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini bukan merupakan proyek tunggal. Tetapi membangun ekosistem perunggasan di mana dari sisi hulu dimulai dari pembangunan pembibitan baik Parent Stock, kemudian Pullet, kemudian pabrik pakan, kemudian vaksin dan obat. Termasuk nanti di hilirnya adalah untuk membangun RPHU yang akan menyerap ayam maupun telur yang dibudidayakan oleh para peternak rakyat,” paparnya.

Dalam implementasinya, pemerintah menunjuk BUMN pangan sebagai operator utama. Pendanaan infrastruktur didukung investasi dari Danantara, sementara peternak rakyat akan difasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Kontribusi untuk Ketahanan Pangan dan Lapangan Kerja

Jika seluruh proyek di 30 titik terwujud, dampaknya diperkirakan cukup signifikan. Proyek ini berpotensi menyerap hingga 1,46 juta tenaga kerja dan ditargetkan menghasilkan 1,5 juta ton daging ayam serta 1 juta ton telur per tahun, yang akan didedikasikan untuk mendukung Program MBG.

Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menekankan bahwa keterlibatan holding BUMN pangan ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga ketahanan pangan. “Proyek-proyek ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja usaha, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan strategis negara terkait ketersediaan pangan, stabilitas pasokan, dan keterjangkauan harga. Hilirisasi menjadi instrumen penting untuk memperkuat kemandirian pangan nasional,” tuturnya.

Di Malang, pembangunan fasilitas GPS seluas 5,6 hektare dengan kapasitas 18.000 ekor ini dilaksanakan oleh PT Berdikari, anak usaha ID FOOD. Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menyatakan fasilitas ini menjadi fondasi penting bagi industri hulu perunggasan.

“Dengan kapasitas yang dibangun, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan daging ayam karkas hingga sekitar 169 juta kilogram, sehingga dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein nasional, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis,” ungkap Maryadi.

Keberhasilan proyek percontohan di fase pertama ini akan menjadi penentu bagi percepatan pembangunan di titik-titik berikutnya, dengan harapan dapat menciptakan ketahanan pangan yang lebih merata dan mandiri di masa depan.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar