PARADAPOS.COM - Di balik dinding tenda darurat berwarna jingga, semangat berbagi justru bersinar lebih terang. Itulah pemandangan yang menyentuh di sejumlah lokasi pengungsian di Aceh, di mana para penyintas banjir bandang dan tanah longsor November 2025 menjalani bulan suci Ramadhan. Meski kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam keterbatasan, tradisi saling membantu dan memuliakan tamu, atau 'peumulia jamee', tetap mereka pegang teguh. Laporan ini menggambarkan ketangguhan dan kemurahan hati warga yang, meski harus menerima bantuan, tak kehilangan keinginan untuk memberi.
Kebersamaan di Tengah Keterbatasan
Suasana Ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda bagi ratusan jiwa dari Desa Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Alih-alih berkumpul di rumah masing-masing, mereka harus menghabiskan hari-hari di kompleks hunian darurat. Tendang berderet menggantikan dinding rumah yang hilang tersapu bencana. Ucapan "Marhaban ya Ramadhan" seolah tertutup oleh plang bertuliskan "Hunian Darurat". Namun, dalam kesederhanaan itu, nilai-nilai kebersamaan justru menguat.
Firmadi, Kepala Dusun Lhok Pungki yang rumahnya habis tak bersisa, mengaku rindu kehidupan normal. Meski begitu, ia bersyukur atas keselamatan yang mereka terima. Kehidupan di pengungsian, tuturnya, secara halus mengubah kebiasaan sehari-hari.
"Sekarang kalau beli apa-apa, gak bisa gak lihat sebelah (tetangga). Kan nggak enak, kalau yang di sebelah nggak dibeliin," ujar Firmadi.
Perasaan serupa diungkapkan Halmatun Sadian. Ia mengakui kerinduan akan Ramadhan di rumah sendiri, namun juga menemukan sisi lain dari kebersamaan yang terpaksa terjalin. Suaranya sempat bergetar mengenang musibah, sebelum akhirnya mencoba melihat sisi terang.
"Tetapi masak ramai-ramai begini seru juga," ucapnya disertai tawa kecil, walau suara yang bergetar menyiratkan perih yang tertahan.
Aturan Tak Tertulis: Berbagi atau Menahan Diri
Di antara tenda-tenda itu, tumbuh sebuah norma tak tertulis. Semangat untuk memperhatikan sesama menjadi begitu kental, seolah mereka yang tidak dalam kondisi berbagi memilih untuk menahan diri. Setiap hidangan, setiap belanjaan, dipikirkan untuk kepentingan bersama. Inilah bentuk solidaritas yang lahir dari penderitaan yang sama, mengubah individu-individu yang terdampak menjadi sebuah komunitas yang saling menguatkan.
Peumulia Jamee: Memuliakan Tamu di Kala Susah
Nilai luhur masyarakat Aceh dalam menghormati tamu ternyata tak luntur oleh bencana. Tradisi 'peumulia jamee' tetap hidup, bahkan diwujudkan dengan cara yang lebih mengharukan. Saat tim jurnalis berkunjung, warga di Dusun Lhok Pungki dengan sigap mengatur kursi seadanya dan menghidangkan masakan yang mereka olah bersama. Mereka dengan sopan mempersilakan tamu duduk terlebih dahulu, sebuah sikap yang menunjukkan betapa adab telah mengakar lebih dalam daripada materi.
Pemandangan serupa terlihat di Dusun Sarah Gala, Aceh Timur. Ikan balado, tempe goreng, dan sup sayur dihidangkan untuk berbuka puasa. Para warga dengan sabar menunggu tamu menyantap terlebih dahulu, sebuah kesopanan yang membuat hati para tamu sungkan untuk menerimanya.
"Ayo, berbuka. Sudah azan," ajak seorang ibu yang bertugas mengkoordinasi dapur, memecah keheningan dan rasa sungkan yang melanda.
Karpet Satu-satunya dan Segelas Teh Manis
Kesungguhan dalam memuliakan tamu mencapai puncaknya di Dusun Bahagia, Aceh Tamiang. Siti Hasanah, atau yang akrab disapa Nur Lamek, menyambut tim yang meliput suasana sahur dengan menghamparkan satu-satunya karpet miliknya dan menyuguhkan nasi, daging, serta segelas teh manis. Rasa bersalah karena tidak bisa memberikan alas duduk yang lebih layak justru ia yang utarakan.
"Maaf harus sempit-sempitan," ujar Nur Lamek, sementara ia sendiri duduk di lantai. "Karpet kami hanya satu."
Ketika tim tampak sungkan dan ragu, dengan kebijaksanaan yang dalam, ia memberikan penjelasan yang mencerminkan filosofi hidup yang teguh.
"Ketika orang bersedekah untuk kami, kami juga bersedekah lagi untuk orang. Kan, itu lebih baik," ungkapnya.
Kemegahan dalam Kesederhanaan
Perjalanan dari satu tenda ke tenda lainnya ini memberikan pelajaran berharga. Kemeriahan hari raya tidak selalu diukur dari gemerlap perayaan atau kelengkapan hidangan. Ada kemegahan lain yang justru terpancar dari kesederhanaan dan ketulusan. Di tengah keprihatinan akibat bencana, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa kasih sayang dan semangat berbagi adalah kekuatan yang tidak dapat dihanyutkan oleh banjir bandang sekalipun. Mereka tidak sekadar bertahan hidup, tetapi memilih untuk tetap hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan yang utuh, menjadikan Ramadhan di pengungsian sebagai telawan ketangguhan dan kemurahan hati yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Timnas Skateboard Indonesia Mulai Persiapan Intensif di Bali untuk Asian Games 2026
Lima Manfaat Kurma untuk Jaga Kebugaran Selama Ramadan
Kadin Sumut Apresiasi Capaian Satu Tahun Pemerintahan Bobby-Surya
Sejumlah Insiden Kriminal Warnai Jakarta, dari Penganiayaan SPBU hingga Penipuan Robot Trading