PARADAPOS.COM - Pemerhati Jakarta, Zulfikar Marikar, mendesak percepatan sterilisasi jalur khusus Transjakarta untuk menjawab lonjakan jumlah penumpang dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di ibu kota. Dorongan ini muncul di tengah data pertumbuhan penumpang yang signifikan sepanjang 2025, di mana keandalan dan kecepatan bus menjadi tuntutan utama pengguna.
Lonjakan Penumpang dan Tuntutan Layanan
Data resmi menunjukkan beban operasional Transjakarta yang terus membesar. Sepanjang tahun 2025, layanan Bus Rapid Transit (BRT) itu tercatat mengangkut sekitar 413 juta penumpang, tumbuh 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-ratanya, lebih dari satu juta warga bergantung pada Transjakarta setiap harinya. Tren positif ini berlanjut di awal 2026, dengan jumlah penumpang pada Januari mencapai 35,36 juta orang, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Zulfikar Marikar melihat angka-angka ini sebagai sinyal yang jelas. "Dengan volume pengguna sebesar itu, Transjakarta harus mendapatkan prioritas dalam aspek kecepatan dan ketepatan waktu," tegasnya dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan Rabu, 25 Februari 2026.
Ancaman di Balik Pertumbuhan
Di balik pertumbuhan yang menggembirakan, tersimpan persoalan mendasar yang menggerus efektivitas sistem. Zulfikar menyoroti fakta bahwa masih banyak koridor Transjakarta yang jalurnya tidak eksklusif, bercampur dengan lalu lintas kendaraan umum dan pribadi. Padahal, jantung dari konsep BRT adalah jalur khusus yang steril, yang memungkinkan bus bergerak lancar dan sesuai jadwal.
Kondisi campur aduk ini, menurut analisanya, menimbulkan konsekuensi langsung di lapangan. "Ketika jalur tidak steril, risiko kecelakaan meningkat, waktu tempuh tidak pasti, dan jadwal terganggu. Ini mengurangi efektivitas BRT sebagai alternatif kendaraan pribadi," paparnya.
Sterilisasi Jalur: Dari Pilihan Menjadi Keharusan
Menanggapi tantangan tersebut, Zulfikar mendorong langkah konkret: pemasangan separator fisik permanen di sepanjang koridor Transjakarta. Solusi ini dinilai penting untuk memastikan jalur khusus benar-benar bebas dari gangguan dan digunakan secara eksklusif. Meski mengakui bahwa langkah ini memerlukan pembiayaan dan penataan ulang ruang lalu lintas, ia meyakini investasi tersebut akan terbayar dengan peningkatan keandalan layanan secara signifikan.
Dalam pandangannya, upaya ini juga sejalan dengan tujuan yang lebih luas, seperti pengurangan kemacetan dan polusi udara. "Sterilisasi jalur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Transjakarta semakin optimal sebagai tulang punggung mobilitas warga," tutup Zulfikar menegaskan.
Seruan ini mengemuka di tengah berbagai upaya pemerintah provinsi mendorong penggunaan angkutan massal, termasuk program "Rabu Wajib Transportasi Umum" bagi ASN. Efektivitas kebijakan tersebut, tampaknya, sangat bergantung pada kemampuan penyedia layanan seperti Transjakarta untuk memberikan pengalaman berangkat yang cepat, aman, dan terprediksi bagi jutaan penumpangnya setiap hari.
Artikel Terkait
Pemerintah Pacu Pariwisata Berkelanjutan, Targetkan 17,6 Juta Wisman di 2026
Indonesia Ajukan Tiga Pilar Kerja Sama dengan India untuk Naik Kelas di Industri Teknologi Global
Ketua Komisi XI DPR Soroti Pentingnya Pemulihan Sistem Pembayaran di Daerah Bencana
Program Makan Bergizi di Purworejo Tetap Berjalan dengan Menu Variatif Selama Ramadan