PARADAPOS.COM - Bazar takjil di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, kembali menjadi pusat keramaian warga yang mencari hidangan berbuka puasa di bulan Ramadan. Suasana tradisi tahunan ini semakin hidup dengan puluhan tenda yang dipenuhi pedagang, menawarkan beragam minuman segar dan kue tradisional khas daerah yang dijuluki "Kota Seribu Kue". Antusiasme pembeli tidak hanya menciptakan atmosfer semarak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku usaha mikro setempat.
Destinasi Utama Pencari Takjil
Setiap hari, terutama saat sore menjelang magrib, kawasan bazar di Mentok ini berubah menjadi pusat aktivitas yang ramai. Tenda-tenda yang difasilitasi berbagai pihak itu dipadati pedagang yang dengan cermat menyusun dagangan mereka. Aroma kue yang baru matang bercampur dengan semangat para pemburu takjil menciptakan pengalaman yang khas dan dinanti-nantikan. Kelengkapan jenis jajanan yang tersedia, dari yang paling sederhana hingga yang rumit, menjadi alasan utama mengapa lokasi ini tak pernah sepi pengunjung.
Primadona Kue Tradisional Legit
Di antara sekian banyak pilihan, kue-kue tradisional khas Mentok tetap menjadi daya tarik utama. Kue pelite, tompek selong, dan sarang madu hanyalah beberapa contoh penganan legit yang paling banyak diburu. Kue-kue ini tidak hanya dihargai karena rasanya yang khas dan cocok untuk berbuka, tetapi juga karena membawa nuansa nostalgia dan kekayaan kuliner lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah seorang pengunjung, Ayu, tampak asyik memilih dagangan di antara lapak yang berjejer. Ia mengungkapkan alasan khusus datang ke bazar ini. "Sengaja datang untuk mencari aneka ragam kue tradisional khas Mentok karena pilihannya yang sangat lengkap dan cita rasanya yang cocok untuk dijadikan hidangan pembatal puasa," tuturnya pada Rabu, 25 Februari 2026.
Dampak Positif bagi Perekonomian Pedagang
Geliat ekonomi di balik keramaian bazar ini terasa sangat nyata bagi para pedagang. Tingginya animo masyarakat berbelanja takjil secara langsung mendongkrak pendapatan usaha kecil dan mikro. Bagi banyak pedagang, momen Ramadan seperti ini merupakan periode penjualan yang sangat dinantikan.
Reni, salah satu pedagang di lokasi tersebut, membenarkan hal itu. Ia menuturkan bahwa daya beli masyarakat pada Ramadan kali ini terbilang cukup tinggi. "Saya merasa sangat bersyukur karena lapak saya selalu ramai dikerubungi pembeli, dan aneka jajanan yang saya jajakan sering kali laris manis terjual habis sebelum beduk magrib berkumandang," jelasnya dengan penuh syukur. Pengalamannya ini menggambarkan bagaimana tradisi keagamaan dan aktivitas ekonomi saling beriringan, memberikan manfaat yang konkret bagi kehidupan warga.
Artikel Terkait
Gempa M 5,0 Guncang Pasaman Barat, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Tanah Longsor di Minas Gerais Tewaskan 25 Orang, 43 Masih Hilang
Imsak Kota Medan Hari Ini Pukul 05:12 WIB
Polri Tangkap Lima Tersangka Operator Penipuan SMS E-Tilang Palsu Atas Nama Kejagung