PARADAPOS.COM - Jumat (16/1/2026) pagi, ribuan orang memadati kawasan Telaga Sarangan di Magetan, Jawa Timur, untuk menyaksikan puncak tradisi tahunan Larung Sesaji atau Labuhan Telaga Sarangan. Upacara adat yang digelar setiap Jumat Pon di bulan Ruwah ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat setempat sekaligus penanda penyambutan bulan Ramadhan. Arak-arakan gunungan tumpeng raksasa dan berbagai hasil bumi mengelilingi telaga sebelum akhirnya dilarungkan ke tengah perairan.
Ritual Penuh Makna di Pinggir Telaga
Suasana pagi di Telaga Sarangan terasa berbeda dan lebih semarak. Wisatawan berjejal di sepanjang jalan, menanti iring-iringan kirab budaya yang dimulai dari kantor Kelurahan Sarangan. Barisan pembuka diisi warga yang mengenakan pakaian adat Jawa dengan penuh khidmat, diikuti perangkat desa serta Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti beserta jajaran.
Rombongan kemudian semakin meriah dengan kehadiran pasangan domas yang anggun, atraksi kesenian Reog, dan puncaknya adalah arak-arakan tiga gunungan sesaji utama. Tumpeng Gono Bahu setinggi 2,5 meter, tumpeng sayur, dan tumpeng buah hasil bumi dibawa dengan hati-hati. Prosesi ditutup oleh warga yang berpakaian bak prajurit berkuda, menciptakan panorama budaya yang hidup dan mengesankan.
Setelah mengelilingi telaga dengan berjalan kaki dan berdoa di punden, ketiga gunungan sesaji itu kemudian dibawa dengan kapal motor menuju titik tengah telaga. Di sanalah ritual inti berlangsung.
Larung Sesaji, Simbol Syukur dan Harmoni
Dipimpin langsung oleh Bupati Magetan, ketiga tumpeng sesaji secara khidmat dilarung atau ditenggelamkan ke dalam Telaga Sarangan. Tumpeng nasi melambangkan hati yang putih bersih dan permohonan keselamatan. Sementara, tumpeng sayur dan buah merupakan simbol kemakmuran dan ungkapan terima kasih atas hasil bumi yang melimpah.
Seorang sesepuh desa yang diwawancarai menjelaskan akar sejarah tradisi ini. "Kegiatan Labuhan Telaga Sarangan merupakan tradisi yang sudah dilaksanakan sejak zaman dahulu di Kabupaten Magetan," ungkapnya. Awalnya, ritual ini bersifat tertutup dan hanya diikuti masyarakat sekitar. Namun, sejak 1973, tradisi ini dibuka sebagai bagian dari promosi wisata, yang akhirnya menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
Pengakuan Nasional sebagai Warisan Budaya
Komitmen panjang masyarakat dalam melestarikan tradisi ini akhirnya berbuah pengakuan formal. Baru-baru ini, tradisi Labuhan Telaga Sarangan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Sertifikat penghargaan diserahkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Magetan dalam sebuah acara apresiasi budaya di Malang.
Bupati Nanik Endang Rusminiarti menekankan bahwa pengakuan ini bukan sekadar soal sertifikat. Ia memandang Labuhan Sarangan sebagai warisan budaya adiluhung yang sarat makna. "Labuhan Sarangan bukan hanya ritual, melainkan warisan budaya adiluhung yang sarat makna," jelasnya. Menurutnya, tradisi ini adalah wujud syukur sekaligus pengingat untuk menjaga harmoni dengan alam, khususnya Telaga Sarangan yang menjadi sumber kehidupan.
Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan pada lingkungan hidup dalam tradisi ini diharapkan dapat terus diturunkan kepada generasi muda, agar tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan.
Daya Tarik Wisata dan Komitmen Pelestarian
Pengakuan sebagai WBTb diharapkan dapat mendongkrak popularitas tradisi ini ke tingkat yang lebih tinggi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyatakan harapannya. "Labuhan Sarangan, ke depan diharapkan dapat masuk dalam kalender event nasional sebagai salah satu atraksi budaya yang membanggakan Magetan," tuturnya. Saat ini, acara ini telah masuk dalam kalender resmi pariwisata daerah.
Dampak positifnya terhadap sektor pariwisata sudah nyata. Data menunjukkan kunjungan ke Telaga Sarangan terus meningkat, dengan pendapatan asli daerah yang signifikan. Pemerintah Kabupaten Magetan berkomitmen untuk terus mengembangkan kawasan ini sebagai ikon wisata alam dan budaya yang berkelanjutan, di mana pelestarian tradisi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Artikel Terkait
Lamine Yamal Cetak Hattrick, Barcelona Kokoh di Puncak Usai Bungkam Villarreal
Persik Kediri Incar Kemenangan di Solo, Imanol Garcia Dipastikan Kembali
Persik Kediri Hadapi Persis Solo Tanpa Kiko Carneiro Akibat Akumulasi Kartu
Shell dan Pertamina Naikkan Harga BBM Non-Subsidi Mulai Maret 2026