Wacana Revitalisasi Pasar Krian Sidoarjo Kembali Menguat, Fokus pada Tata Kelola dan Daya Saing Digital

- Selasa, 03 Maret 2026 | 19:25 WIB
Wacana Revitalisasi Pasar Krian Sidoarjo Kembali Menguat, Fokus pada Tata Kelola dan Daya Saing Digital

PARADAPOS.COM - Wacana revitalisasi Pasar Krian di Sidoarjo kembali mencuat, didorong oleh potensi strategisnya sebagai pasar terbesar di wilayah barat kabupaten tersebut. Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono menegaskan, pasar yang terletak di jalur antarprovinsi dan berbatasan dengan Gresik serta Mojokerto ini berpeluang menjadi etalase perekonomian daerah. Pembahasan ini menyentuh tidak hanya soal penataan fisik, tetapi juga upaya menjaga stabilitas harga sembako dan adaptasi pedagang di tengah persaingan era digital.

Potensi Strategis dan Tantangan Revitalisasi

Pasar Krian bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa. Posisinya yang berada di persimpangan wilayah dan dekat kawasan industri menjadikannya simpul ekonomi vital. Namun, potensi besar itu diiringi tantangan untuk membenahinya tanpa mengganggu denyut perdagangan yang telah berjalan puluhan tahun. Revitalisasi harus dirancang dengan cermat agar tidak justru mengusir pembeli setia.

Bambang Haryo Soekartono, yang meninjau langsung lokasi, mengingatkan pentingnya pendekatan yang tidak mengacaukan aktivitas pedagang. "Jangan sampai dibangun tapi justru tidak laku, karena posisi pedagang tidak terlihat atau kurang tertata. Perlu perubahan yang tepat agar pasar ini semakin diminati," tegasnya.

Sinergi Pengelolaan dan Stabilitas Harga

Di luar pembenahan infrastruktur, isu keseharian seperti stabilitas harga bahan pokok turut menjadi perhatian. Meski harga cabai sempat melonjak, kondisi harga sembilan bahan pokok lainnya di Sidoarjo dinilai masih dapat dikendalikan. Hal ini memerlukan terobosan dari berbagai pihak untuk menjaga daya beli masyarakat.

Politisi dari Komisi VII DPR RI itu memberikan catatan khusus. "Alhamdulillah harga sembako bisa dikendalikan, kecuali cabai yang memang naik drastis. Ini perlu terobosan dari Dinas Perdagangan, mungkin dengan mendatangkan pasokan dari daerah yang harganya lebih murah seperti Sulawesi," jelas Bambang.

Dukungan dari pusat disambut positif oleh pengelola pasar. Kepala Pasar Krian, Maria Ulfa, menyatakan bahwa pembinaan rutin kepada pedagang terus dilakukan, mencakup aspek kebersihan, penataan lapak, hingga penyediaan fasilitas pendukung. "Fasilitas seperti keranjang belanja dan sarana pendukung lain juga kami siapkan agar pengunjung semakin nyaman," ujar Maria Ulfa.

Adaptasi Pedagang di Era Digital

Tantangan terbesar pasar tradisional saat ini datang dari persaingan dengan platform digital dan pasar modern. Menyikapi hal ini, para pedagang Pasar Krian menunjukkan semangat adaptasi yang tinggi. Mereka tidak hanya mengandalkan transaksi tatap muka, tetapi juga mulai merambah penjualan secara daring.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Krian, Sholeh, mengungkapkan dinamika tersebut. "Kami terus mendorong pedagang agar tidak hanya mengandalkan penjualan offline, tetapi juga memanfaatkan platform digital. Bahkan ada yang berjualan sambil live di media sosial sehingga pembeli dari luar daerah datang langsung ke Pasar Krian," katanya.

Menurut Sholeh, peran Pasar Krian sebagai pusat kulakan bagi pedagang kecil dari desa-desa sekitar masih kuat. Beberapa pedagang bahkan telah berkembang menjadi grosir. "Persaingan sekarang bukan hanya antar pasar, tapi juga dengan pasar online dan pasar dadakan. Karena itu kami ingin Pasar Krian tetap menjadi pusat perdagangan yang ramai dan diminati masyarakat," tandasnya.

Harapannya, revitalisasi yang inklusif dan well-planned dapat mengakselerasi transformasi Pasar Krian. Kolaborasi antara pemerintah, pengelola, dan pedagang menjadi kunci untuk mempertahankan relevansinya sebagai penggerak ekonomi lokal sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat Sidoarjo dan wilayah sekitarnya.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar